Adi Hütter Kembali ke Frankfurt: Misi Menuntaskan Urusan yang Tertunda
Baca dalam 60 detik
- Eintracht Frankfurt resmi menunjuk Adi Hütter sebagai pelatih kepala dengan kontrak hingga 2029, menggantikan Albert Riera yang dipecat awal bulan ini.
- Hütter sebelumnya sukses membawa Frankfurt ke semifinal Liga Europa 2019 dan melatih Monaco serta Borussia Mönchengladbach dengan catatan impresif.
- Kembalinya Hütter diharapkan mengembalikan stabilitas dan membawa Frankfurt kembali ke kompetisi Eropa setelah musim ini gagal lolos.

Eintracht Frankfurt memutuskan untuk kembali memercayakan kursi pelatih kepada Adi Hütter, sosok yang pernah membawa klub tersebut menembus semifinal Liga Europa pada 2019. Pelatih asal Austria itu menandatangani kontrak berdurasi hingga 2029, menggantikan Albert Riera yang dipecat awal bulan ini setelah hasil buruk di Bundesliga.
Hütter bukan nama asing di Deutsche Bank Park. Sebelumnya ia menukangi Frankfurt selama tiga musim (2018–2021) dan berhasil membawa tim finis tidak lebih rendah dari posisi kesembilan di Bundesliga. Puncaknya, ia mengantar Die Adler ke semifinal Liga Europa untuk pertama kalinya sejak 1980. Kini, ia kembali dengan status yang lebih matang setelah mengumpulkan pengalaman di dua liga top Eropa.
Selepas meninggalkan Frankfurt, Hütter sempat menangani Borussia Mönchengladbach pada musim 2021/22. Meski hanya bertahan semusim, ia menorehkan hasil manis dengan membawa tim finis di 10 besar Bundesliga dan secara sensasional mengalahkan Bayern Munich 5-0 di putaran kedua DFB-Pokal. Kariernya berlanjut ke AS Monaco, di mana ia sukses membawa klub Prancis itu finis kedua dan ketiga di Ligue 1 serta lolos ke Liga Champions sebelum dipecat pada Oktober 2025.
Bagi Hütter, kepulangan ini terasa sangat personal. “Ini sangat spesial dan emosional bagi saya. Waktu yang kami habiskan bersama di Frankfurt meninggalkan kesan mendalam. Saya selalu merasa ada urusan yang belum selesai,” ujarnya dalam pernyataan resmi. Ia menambahkan bahwa perjalanan klub dalam beberapa tahun terakhir sungguh luar biasa, dan ia bertekad bekerja keras untuk mengembalikan kegembiraan para suporter.
Direktur olahraga Frankfurt, Markus Krösche, menyambut positif kembalinya Hütter. Menurutnya, Hütter identik dengan sepak bola menyerang yang berani, kejelasan taktik, dan disiplin. “Dia telah menunjukkan kemampuannya memadukan transisi cepat dengan penguasaan bola, terutama di Monaco, di mana ia berhasil mengembangkan dan menstabilkan salah satu tim termuda di liga sehingga mampu bersaing di papan atas Prancis,” kata Krösche. Ia juga menilai Hütter tidak memerlukan masa adaptasi karena sudah mengenal struktur, lingkungan, dan orang-orang di klub.
Keputusan Frankfurt memulangkan Hütter juga menjadi sinyal ambisi klub untuk segera bangkit. Musim ini, Frankfurt gagal lolos ke kompetisi Eropa, sebuah kemunduran setelah sebelumnya rutin tampil di pentas kontinental. Dengan pengalaman Hütter di Bundesliga dan Eropa, suporter berharap stabilitas dan gaya bermain atraktif kembali terlihat di Deutsche Bank Park.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kembalinya Hütter ke Frankfurt menarik dicermati karena menunjukkan tren klub-klub Bundesliga yang mulai percaya pada pelatih dengan rekam jejak sukses di liga tersebut. Jika Hütter mampu mengulang kesuksesannya seperti periode pertama, bukan tidak mungkin Frankfurt akan kembali menjadi tim yang disegani di Jerman dan Eropa. Pertanyaannya, akankah ia mampu menyelesaikan “urusan yang tertunda” kali ini?



