Dorong Pangan Lokal untuk MBG, Sulteng Siapkan Hilirisasi dan Ekspor ke China
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Sulawesi Tengah mengalokasikan pasokan ayam, telur, dan sayuran dari petani lokal untuk program Makan Bergizi Gratis, dengan potensi perputaran dana Rp6 triliun per tahun.
- Provinsi ini juga menggenjot hilirisasi nikel, perikanan, dan pertanian, termasuk kerja sama ekspor kelapa dan durian ke Hainan, China.
- Langkah ini diharapkan meningkatkan pendapatan daerah dan membuka lapangan kerja, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan pangan luar.

Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, memastikan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi unggulan nasional akan dipasok dari hasil produksi masyarakat lokal. Langkah ini tidak hanya menjamin ketersediaan pangan segar, tetapi juga dirancang untuk menggerakkan ekonomi daerah dengan potensi perputaran dana mencapai Rp6 triliun per tahun. Jika seluruh kebutuhan MBG dipenuhi dari dalam provinsi, dampak berganda terhadap peternak, petani, dan nelayan lokal diprediksi signifikan.
Sulawesi Tengah selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung sumber daya alam, terutama nikel. Namun, Gubernur Anwar Hafid menekankan bahwa hilirisasi tidak hanya terbatas pada sektor tambang. Pemerintah provinsi kini mendorong pengolahan hasil perikanan dan pertanian agar memiliki nilai tambah sebelum diekspor. Langkah ini sejalan dengan kebijakan nasional yang mengutamakan hilirisasi sumber daya alam untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan.
Dalam sektor pertanian, Pemprov Sulteng telah menjalin kerja sama dengan Provinsi Hainan, China, untuk mengekspor kelapa dan durian. Ke depan, target ekspor diperluas mencakup udang dan ikan olahan. China menjadi pasar potensial karena permintaan produk pangan berkualitas tinggi terus meningkat. Kerja sama ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi produk-produk unggulan Sulteng ke pasar global.
Program MBG sendiri menjadi katalis bagi penguatan sistem pangan lokal. Dengan memprioritaskan pasokan dari peternak ayam, petani sayur, dan nelayan setempat, pemerintah provinsi berharap dapat memutus rantai ketergantungan pada pasokan dari luar daerah. Anwar Hafid menyebutkan bahwa inisiatif ini sekaligus menjadi stimulus bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pangan. "Kami ingin setiap rupiah yang dibelanjakan untuk MBG kembali ke masyarakat Sulteng," ujarnya dalam wawancara dengan Nation Hub.
Dari sisi pertambangan, hilirisasi nikel terus berjalan. Pemerintah provinsi memastikan bahwa industri pengolahan nikel tidak hanya memberikan nilai tambah, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal infrastruktur dan ketersediaan energi. Meski demikian, optimisme tetap tinggi bahwa kombinasi antara hilirisasi sumber daya alam dan penguatan pangan lokal mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Sulteng secara berkelanjutan.
Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan partisipasi aktif masyarakat. Apakah Sulteng mampu menjadi model provinsi yang mandiri pangan sekaligus menggenjot ekspor? Jika terealisasi, daerah ini tidak hanya akan menjadi lumbung pangan nasional, tetapi juga pemain penting di pasar internasional.

