Maybank Indonesia Bukukan Laba Rp397 Miliar di Tengah Gejolak Geopolitik, Unit Syariah Tumbuh Pesat
Baca dalam 60 detik
- PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) mencatat laba sebelum pajak Rp397 miliar pada kuartal I-2026, ditopang pertumbuhan kredit ritel dan non-ritel serta perbaikan kualitas aset.
- Pendapatan non-bunga tertekan volatilitas pasar global, namun beban pencadangan turun signifikan 47,9% year-on-year, mencerminkan manajemen risiko yang prudent.
- Unit perbankan syariah menjadi motor pertumbuhan dengan labu sebelum pajak melonjak 52,1% menjadi Rp226 miliar, didorong pembiayaan properti dan segmen UKM.

PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) berhasil membukukan laba sebelum pajak (PBT) sebesar Rp397 miliar pada triwulan pertama 2026, meskipun tekanan geopolitik global memicu volatilitas pasar keuangan dan menekan pendapatan non-bunga. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk (PATAMI) tercatat Rp299 miliar, turun 20,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, menjelaskan bahwa perseroan menyesuaikan ekspektasi dan memfokuskan diri pada segmen ritel, non-ritel, serta perbankan syariah di tengah ketidakpastian. "Ke depan, kami akan terus menangkap peluang pertumbuhan melalui ekosistem Whole of Maybank dan memperkuat bisnis inti sesuai strategi ROAR30 Maybank Group," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (29/5/2026).
Pendapatan bunga bersih (NII) BNII mencapai Rp1,81 triliun, naik 2,1% secara tahunan, didukung penurunan beban bunga dan komposisi pendanaan yang membaik. Net Interest Margin (NIM) tetap stabil di level 4,3%. Namun, pendapatan non-bunga (NOII) anjlok 29,6% menjadi Rp402 miliar, terutama akibat penurunan pendapatan fee dari aktivitas trading surat berharga dan valuta asing Global Markets (GM) yang hanya mencapai Rp20 miliar. Meski demikian, pendapatan fee Premier Wealth naik 20% dan fee layanan ritel membaik.
Beban operasional meningkat 4,5% seiring aktivitas bisnis, namun beban pencadangan turun drastis 47,9% menjadi Rp123 miliar, menandakan kualitas aset yang membaik. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat 2,3% pada Maret 2026, membaik dari 2,4% setahun sebelumnya. Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) tercatat Rp523 miliar.
Kredit Community Financial Services (CFS) ritel dan non-ritel tumbuh 5,4% menjadi Rp88,33 triliun. Segmen non-ritel didorong kredit Business Banking yang naik 15,6% dan SME+ yang tumbuh 12,3%. Kredit ritel meningkat 4,1% berkat pembiayaan otomotif anak usaha yang naik 7,4% serta kredit konsumer (kartu kredit dan KTA) yang tumbuh 6,7%. Sementara itu, portofolio kredit korporasi Global Banking (GB) menurun 12,4%, namun segmen Large Local Corporate (LLC) dan transaksi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) menunjukkan peningkatan yang akan tercatat pada kuartal berikutnya.
Simpanan nasabah naik 6,1% menjadi Rp118,35 triliun, dengan giro melonjak 37,5% sementara deposito berjangka turun 12,3% sejalan dengan upaya bank memperkuat pendanaan murah. Rasio CASA meningkat signifikan dari 53,0% menjadi 61,2%. Permodalan sangat kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) 26,3% dan Common Equity Tier 1 (CET1) 25,2%. Likuiditas tetap sehat: Loan-to-Deposit Ratio (LDR) 85,5%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) 146,2%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 112,4%.
Unit perbankan syariah menjadi bintang kinerja. Total pembiayaan syariah tumbuh 10,4% menjadi Rp32,23 triliun, dengan kontribusi 30,2% terhadap total portofolio pembiayaan bank. Pembiayaan properti syariah naik 14,7% dan segmen SME+ syariah melonjak 39,1%. Laba sebelum pajak unit syariah melesat 52,1% menjadi Rp226 miliar, didukung pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang tumbuh 5,9% dan beban pencadangan yang turun 69,8%. Maybank Indonesia juga meluncurkan solusi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) pertama di Indonesia, dengan outstanding transaksi mencapai Rp500 miliar.
Presiden Komisaris Maybank Indonesia, Dato' Sri Khairussaleh Ramli, menekankan bahwa volatilitas pasar membayangi kinerja kuartal pertama, namun langkah memperkuat fundamental UKM diyakini akan mendorong pertumbuhan berkelanjutan. "Ini merupakan arah strategis yang telah kami canangkan di Maybank Group," ujarnya.
Bagi investor dan pelaku pasar Indonesia, kinerja Maybank Indonesia menunjukkan bahwa bank dengan fundamental kuat dan diversifikasi segmen, termasuk syariah, tetap mampu bertahan di tengah gejolak. Pertanyaan ke depan adalah apakah bank dapat mempertahankan momentum pertumbuhan kredit ritel dan syariah sambil mengelola tekanan pendapatan non-bunga, terutama jika volatilitas pasar berlanjut hingga akhir tahun.