Konflik Timur Tengah Pukul Industri Petrokimia Jepang: Tingkat Operasi Pabrik Etilen Anjlok ke Rekor Terendah
Baca dalam 60 detik
- Tingkat operasi pabrik etilen Jepang jatuh ke 67,3% pada April, terendah sejak 1996, akibat gangguan pasokan nafta dari Timur Tengah.
- Kenaikan biaya pengadaan nafta mendorong harga produk konsumen naik, sementara Jepang berupaya diversifikasi sumber impor.
- Industri petrokimia Jepang diperkirakan pulih bertahap pada Mei-Juni, namun ketergantungan tinggi pada Timur Tengah masih menjadi risiko.

Konflik berkepanjangan di Timur Tengah mulai mengguncang industri petrokimia Jepang. Tingkat operasi pabrik etilen—bahan baku utama deterjen, farmasi, dan cat—merosot ke titik terendah sepanjang sejarah pada April lalu, menurut data terbaru dari Japan Petrochemical Industry Association.
Angka utilisasi pabrik hanya mencapai 67,3 persen, turun signifikan dari 75,7 persen pada Februari sebelum ketegangan di kawasan Teluk memuncak. Penutupan efektif Selat Hormuz akibat serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari telah memutus jalur pasokan nafta, bahan baku minyak bumi yang menjadi andalan pabrik-pabrik Jepang. Sebelum krisis, Negeri Sakura menggantungkan sekitar 80 persen kebutuhan nafta dari Timur Tengah.
Kenaikan biaya pengadaan nafta menjadi momok baru. Perusahaan kimia besar seperti Asahi Kasei dan Mitsubishi Chemical terpaksa memburu pasokan dari Amerika Serikat, Afrika, dan pasar domestik dengan harga premium. "Kami mampu mendapatkan nafta dari seluruh dunia dengan membayar premi," ujar Manabu Chikumoto, wakil ketua asosiasi sekaligus presiden Mitsubishi Chemical Group, dalam konferensi pers.
Dampak langsung dari kenaikan biaya ini sudah terasa di rak-rak ritel. Harga produk konsumen yang menggunakan turunan etilen ikut terdongkrak. Ketua asosiasi Koshiro Kudo, yang juga menjabat presiden Asahi Kasei, mengakui bahwa pada Maret perusahaan-perusahaan sempat panik dalam mengamankan pasokan. Namun sejak pertengahan April, situasi mulai lebih terkendali seiring perusahaan lebih jeli memantau harga.
Kudo optimistis tingkat operasi akan naik ke sekitar 70 persen pada Mei dan Juni. Meski demikian, angka itu masih jauh di bawah kapasitas ideal. Dari 12 pabrik pemecah nafta yang dimiliki Jepang, beberapa masih menjalani perawatan rutin, sehingga produksi etilen April memang naik 3,6 persen dari Maret, tetapi secara tahunan masih jeblok 37,1 persen.
Konteks Indonesia: Gangguan pasokan nafta global ini menjadi pengingat bagi Indonesia yang juga mengimpor nafta untuk industri petrokimia dalam negeri. Dengan ketergantungan serupa pada kawasan Teluk, gejolak harga dan pasokan bisa berdampak pada biaya produksi plastik, pupuk, dan produk kimia lainnya di dalam negeri. Pemerintah dan pelaku industri perlu mempercepat diversifikasi sumber impor serta mendorong pengembangan kilang domestik guna mengurangi kerentanan terhadap konflik geopolitik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat stabilitas kawasan Timur Tengah dapat pulih. Jika Selat Hormuz kembali berfungsi normal, pasokan nafta bisa lancar dan harga turun. Namun bila ketegangan berlanjut, industri petrokimia Jepang—dan negara pengimpor lainnya—harus bersiap dengan realitas baru: biaya produksi yang lebih tinggi dan rantai pasok yang lebih kompleks.



