Konflik Internal Roma Memuncak: Gasperini Usir Massara dari Bus Tim
Baca dalam 60 detik
- Roma resmi berpisah dengan direktur olahraga Ricky Massara setelah konflik berkepanjangan dengan pelatih Gian Piero Gasperini.
- Puncak ketegangan terjadi saat Gasperini melarang Massara naik bus tim usai kekalahan dari Atalanta, menandai retaknya hubungan kerja.
- Kepergian Massara membuka babak baru bagi Roma, dengan Gasperini kini memiliki kendali penuh atas strategi transfer klub.

AS Roma secara resmi mengakhiri kerja sama dengan direktur olahraga Ricky Massara pada akhir pekan lalu, menutup babak panjang ketegangan internal yang nyaris menggagalkan musim 2025-26. Keputusan ini bukanlah kejutan, mengingat konflik antara Massara dan pelatih Gian Piero Gasperini telah berlangsung berbulan-bulan, bahkan mencapai titik didih di atas bus tim.
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, momen paling dramatis terjadi pada 3 Januari lalu, ketika Roma kalah 1-0 dari Atalanta di Bergamo. Usai pertandingan, Gasperini secara terbuka menolak mengizinkan Massara naik ke bus yang membawa tim kembali ke bandara. Massara terpaksa mencari transportasi sendiri, naik taksi untuk pulang. Tindakan ini dinilai sebagai pesan keras Gasperini agar Massara segera bergerak mencari pemain baru yang sesuai dengan kebutuhannya.
Ketegangan semakin memuncak pada 22 Maret, saat Gasperini memboikot konferensi pers pasca kemenangan Roma atas Lecce. Aksi tersebut merupakan respons atas kritik yang dilontarkan Massara dalam wawancara sebelum pertandingan. Sejak saat itu, hubungan keduanya dianggap sudah tidak dapat diperbaiki lagi.
Konflik ini tidak hanya melibatkan Massara dan Gasperini. Sebelumnya, Gasperini juga terlibat perseteruan publik dengan penasihat senior klub, Claudio Ranieri, yang akhirnya meninggalkan Roma pada April. Kepergian Ranieri menjadi sinyal bahwa Massara akan menyusul, dan prediksi itu kini terbukti.
Gasperini sendiri pernah menyebut Massara sebagai “orang baik”, namun ia tidak pernah menyangkal adanya perbedaan pandangan dalam urusan teknis. Sumber internal klub menyebutkan, Gasperini kerap frustrasi dengan lambatnya proses transfer yang ditangani Massara, serta kualitas pemain yang didatangkan dinilai tidak sesuai dengan visi taktiknya. Di sisi lain, Massara berdalih bahwa keterbatasan finansial akibat regulasi UEFA menjadi kendala utama dalam berburu pemain.
Meski hubungan memburuk, Massara tetap bertahan hingga awal Mei untuk menyelesaikan negosiasi perpanjangan kontrak Paulo Dybala. Begitu kesepakatan tercapai, ia pun angkat kaki dari klub ibu kota Italia tersebut. Kini, Gasperini memiliki kendali penuh atas arah transfer Roma, sebuah situasi yang jarang terjadi di klub sebesar Roma.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, konflik semacam ini menjadi pengingat betapa pentingnya sinergi antara pelatih dan direktur olahraga. Di Liga 1, beberapa klub juga kerap mengalami gejolak serupa, meski jarang terekspos hingga level seperti yang terjadi di Roma. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Gasperini mampu membangun kembali skuad yang kompetitif tanpa campur tangan figur seperti Massara, atau justru sebaliknya, Roma akan kehilangan keseimbangan di bursa transfer?



