Koreksi Saham Teknologi Asia Makin Dalam, Singapura Justru Cetak Rekor
Baca dalam 60 detik
- Saham teknologi Asia terpuruk karena kekhawatiran valuasi AI yang berlebihan dan ekspektasi laba yang tidak terpenuhi, memicu aksi jual besar-besaran di Korea Selatan dan Taiwan.
- Indeks Singapura FTSE Straits Times justru menembus rekor tertinggi sepanjang masa, didorong oleh peralihan investor ke sektor perbankan yang lebih stabil.
- Ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed dan eskalasi konflik Timur Tengah menambah tekanan pada pasar global, dengan minyak mentah melonjak lebih dari 3%.

Kekhawatiran berlebihan terhadap valuasi kecerdasan buatan (AI) kembali mengguncang pasar saham Asia pada Rabu (29/7), dengan indeks Korea Selatan dan Taiwan anjlok tajam, sementara bursa Singapura justru menorehkan rekor baru berkat aksi rotasi investor ke sektor perbankan.
Indeks KOSPI Korea Selatan sempat ambles hingga 12,6% sebelum memangkas kerugian menjadi sekitar 6% pada penutupan, setelah sehari sebelumnya jatuh lebih dari 10%. Dalam dua hari terakhir, nilai pasar saham Korea Selatan terkikis lebih dari 16%, dan sejak awal Juni kerugian mencapai 33,2%โcatatan bulanan terburuk sepanjang sejarah. Saham Taiwan juga tertekan, ditutup 3,8% lebih rendah ke level terlemah sejak pertengahan Mei, sementara Nikkei Jepang tergelincir 2,6%.
Pemicu utama aksi jual ini adalah keraguan investor terhadap kemampuan perusahaan AI untuk menghasilkan imbal balik dari investasi raksasa yang telah dikucurkan. SK Hynix, produsen chip memori asal Korea Selatan, melaporkan laba operasional kuartal II yang melonjak lebih dari enam kali lipat, tetapi tetap di bawah ekspektasi pasar yang terlalu tinggi. Saham SK Hynix ambruk 9% sehari setelah rilis laporan keuangan. "Di pasar AI saat ini, kinerja kuat saja tidak lagi cukup," ujar Gary Tan, manajer portofolio Allspring Global Investments. Investor, kata dia, mencari katalis tambahan seperti kesepakatan jangka panjang dan pengembalian pemegang saham yang lebih jelas.
Saham Samsung Electronics juga turun 5%, memperberat indeks Seoul. Kedua saham ini menguasai lebih dari separuh kapitalisasi pasar KOSPI. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan konsentrasi risiko yang berlebihan di sektor teknologi.
Di tengah gejolak sektor teknologi, bursa Singapura justru menonjol. Indeks FTSE Straits Times melonjak lebih dari 1% ke rekor tertinggi 5.696,65 poin, didorong oleh kenaikan 1-2% pada saham bank-bank besar seperti DBS, OCBC, dan United Overseas Bank. Gubernur Bank Sentral Singapura pada Selasa (28/7) menyatakan pertumbuhan ekonomi Negeri Singa diperkirakan tetap solid di paruh kedua tahun ini, meskipun keberlanjutan investasi AI masih menjadi ketidakpastian utama. Indeks Singapura menjadi salah satu yang berkinerja terbaik di Asia emerging tahun ini dan berpotensi mencatatkan bulan terbaik sejak November 2020.
Fenomena serupa terlihat di Filipina, di mana indeks saham Manila naik 2,1% ke level tertinggi dalam sepekan. Menurut Gary Tan, pergerakan ini mencerminkan rotasi keluar dari posisi AI yang ramai ke pasar yang kurang dimiliki, mengingat Filipina dianggap rentan terhadap disruptsi AI karena besarnya sektor business process outsourcing.
Ekspektasi pasar kini tertuju pada laporan keuangan raksasa teknologi Microsoft dan Meta yang akan dirilis dalam waktu dekat. Hasil mereka akan menjadi ujian kunci bagi narasi AI, terutama setelah Alphabet dan Tesla mengecewakan investor pekan lalu dengan laporan arus kas negatif. "Putaran laba kali ini harus membuktikan bahwa belanja modal besar-besaran telah membuahkan hasil, jika tidak, pasar bisa tertekan lebih lanjut," kata Sean Teo, sales trader Saxo di Singapura. Ia juga menyoroti kekhawatiran akan pembiayaan sirkuler, di mana segelintir perusahaan saling berinvestasi dalam lingkaran tertutup sehingga permintaan organik menjadi tidak jelas.
Tekanan juga datang dari sisi geopolitik. Harga minyak mentah Brent melonjak 3% ke US$87,19 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 3% ke US$82,08, setelah Komando Pusat AS mengonfirmasi Iran meluncurkan beberapa rudal balistik yang berhasil dicegat. Serangan ini mengakhiri ketenangan relatif di kawasan Teluk dan memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan. Analis IG Tony Sycamore menilai insiden tersebut menunjukkan kedua pihak masih jauh dari penyelesaian sengketa jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Di sisi moneter, pasar menanti keputusan kebijakan Federal Reserve yang dijadwalkan pada Rabu malam. Di bawah kepemimpinan baru Ketua The Fed Kevin Warsh yang menerapkan rezim tanpa panduan ke depan, keputusan suku bunga menjadi sulit ditebak. Trader memperkirakan 33% kemungkinan kenaikan suku bunga, sementara dolar AS bertengger di dekat level tertinggi satu bulan. Frank Flight, kepala strategi makro Citadel Securities, memperingatkan bahwa pasar mungkin meremehkan pergeseran hawkish The Fed, dan kenaikan harga energi dapat mendorong keputusan untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli ini.
Bagi investor Indonesia, gejolak ini menjadi pengingat akan risiko konsentrasi di sektor teknologi global dan pentingnya diversifikasi. Sementara itu, reli saham perbankan Singapura bisa menjadi sinyal positif bagi sektor perbankan domestik, meskipun tekanan inflasi dan suku bunga masih membayangi. Apakah The Fed akan benar-benar menaikkan suku bunga atau tetap bertahan? Jawabannya akan menentukan arah pasar dalam pekan-pekan mendatang.



