Dari 'Bling-Bling' ke Kolektif: Transformasi Total PSG di Era Luis Enrique
Baca dalam 60 detik
- PSG beralih dari model belanja megabintang ke pendekatan kolektif dengan identitas sepak bola menyerang dan pemain Prancis sebagai inti.
- Luis Enrique menerapkan disiplin ketat, seperti menjatuhkan Ousmane Dembele karena terlambat latihan, yang justru berbuah Ballon d'Or.
- Kesuksesan ini diuji saat PSG mempertahankan gelar Liga Champions melawan Arsenal, dengan tantangan stadion kecil dan pendapatan TV yang timpang.

Paris Saint-Germain (PSG) yang akan mempertahankan gelar Liga Champions melawan Arsenal pada Sabtu (31/5) bukanlah klub yang sama dengan tim yang dibeli Qatar Sports Investments (QSI) pada 2011. Dari tim papan tengah Ligue 1 yang nyaris terdegradasi, PSG menjelma menjadi raksasa Eropa—namun perjalanan itu penuh liku, dari era gemerlap megabintang hingga revolusi budaya yang mengutamakan kolektivitas.
Ketika QSI mengakuisisi PSG, klub itu finis di peringkat ke-13 dan kekurangan struktur, prestise, serta filosofi yang jelas. Strategi awal adalah belanja besar-besaran: Zlatan Ibrahimovic, Neymar, Kylian Mbappe, dan Lionel Messi didatangkan untuk mengangkat pamor global. Fase ini memang membawa dominasi domestik dan penampilan impresif di Liga Champions, tetapi juga memicu ketegangan internal. Para bintang sering mendikte ruang ganti, memengaruhi keputusan taktik, dan terlibat perselisihan sepele—seperti jadwal latihan atau siapa yang berhak mengeksekusi penalti. Bahkan, Neymar memiliki klausul kontrak yang memungkinkannya memutuskan untuk tidak bepergian ke pertandingan tertentu.
Puncak ketidakharmonisan terjadi saat legenda basket Kobe Bryant mengunjungi pusat latihan lama. Neymar dan Mbappe ingin mengubah jadwal yang telah disusun pelatih Unai Emery, yang menginginkan mereka beristirahat. Meski Emery memenangi pertarungan itu, insiden tersebut meninggalkan luka. Model yang berpusat pada bintang terbukti tidak berkelanjutan.
Pada 2022, Presiden Nasser Al-Khelaifi secara terbuka mendeklarasikan akhir era "bling-bling". Pertanyaan mendasar berubah dari "bagaimana memenangi Liga Champions" menjadi "sepak bola seperti apa yang ingin kami mainkan?" Jawabannya: sepak bola menyerang dengan pemain Prancis sebagai inti. Langkah ini mengubah segalanya. Untuk pertama kalinya di era QSI, klub menentukan identitas sepak bola terlebih dahulu, baru memilih pelatih dan membangun skuad. Sosok yang ditunjuk untuk memimpin transformasi adalah Luis Enrique.
Pelatih asal Spanyol itu langsung menerapkan disiplin dengan kejelasan yang selama bertahun-tahun hilang dari PSG. Messi, Neymar, Mbappe, Marco Verratti, dan Sergio Ramos—ikon era sebelumnya—dilepas. Bukan sebagai hukuman, melainkan untuk mereset prioritas: tidak ada pemain di atas tim. Momen simbolis terjadi pada September 2024, ketika Ousmane Dembele terlambat 10 menit ke latihan jelang laga Liga Champions melawan Arsenal. Luis Enrique langsung menurunkannya dari skuad. Dembele kemudian memenangi Ballon d'Or 2025. Pemain lain merespons positif: ketika diganti, Dembele justru memberi semangat kepada penggantinya. Pemain cedera diwajibkan hadir di sesi latihan. Hasilnya, PSG menjadi tim dengan kartu kuning paling sedikit di liga-liga top Eropa.
Transformasi ini juga didukung oleh kesatuan struktur kepemimpinan. Luis Enrique, direktur olahraga Luis Campos, dan presiden Al-Khelaifi bekerja selaras dengan peran yang jelas. Stabilitas di puncak menciptakan stabilitas di seluruh organisasi. Ketika media Prancis mendesak enam pembelian baru setelah kekalahan dari Arsenal, Bayern, dan Atletico pada Januari 2025, PSG hanya mendatangkan satu pemain: Kvicha Kvaratskhelia. Klub tidak lagi panik.
Meski demikian, PSG belum menjadi produk jadi. Stadion Parc des Princes berkapasitas 46.000 kursi dinilai terlalu kecil untuk klub sekelasnya. Pendapatan hak siar televisi juga jauh tertinggal dari Premier League: klub-klub papan atas Inggris menerima sekitar €200 juta per musim, sementara PSG hanya €9 juta. Namun, untuk pertama kalinya di era QSI, PSG tahu siapa dirinya dan ke arah mana ia melangkah. Pertanyaan besarnya: mampukah mereka mempertahankan gelar Liga Champions di tengah keterbatasan itu?



