Blatter Kecam Rencana FIFA Jual Saham Piala Dunia ke Investor
Baca dalam 60 detik
- Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter mengecam rencana induk organisasi sepak bola dunia membentuk anak usaha senilai 20 miliar dolar AS untuk mengelola Piala Dunia dan menawarkan saham hingga 20 persen ke pihak eksternal.
- Menurut Blatter, langkah itu mengubah turnamen yang merupakan warisan budaya menjadi produk investasi yang bertentangan dengan prinsip kepemilikan sepak bola oleh publik.
- Kritik keras juga datang dari UEFA yang menilai FIFA tengah menjual sepak bola, sementara belum ada kejelasan apakah investor yang masuk akan memengaruhi kebijakan turnamen.

Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter melontarkan kritik pedas terhadap rencana induk organisasi sepak bola dunia yang hendak membentuk anak usaha senilai 20 miliar dolar AS untuk mengelola Piala Dunia. Menurutnya, turnamen terbesar di planet ini bukanlah aset komersial yang bisa diperjualbelikan oleh segelintir eksekutif.
Blatter, yang memimpin FIFA selama 17 tahun hingga 2015, menegaskan bahwa sepak bola bukan milik individu atau institusi mana pun. "Sepak bola milik rakyat," ujarnya kepada Reuters, Rabu (28/7). Ia menambahkan, jika FIFA berubah menjadi struktur korporasi yang berorientasi laba, organisasi itu akan kehilangan jiwanya.
Rencana yang diumumkan FIFA pada Selasa (27/7) itu memicu reaksi keras dari otoritas sepak bola Eropa, termasuk UEFA. Badan tertinggi sepak bola Eropa itu menilai FIFA tengah menjual sepak bola. Blatter pun menyatakan keterkejutannya, seraya mengaku tidak akan pernah mempertimbangkan gagasan serupa selama masa kepemimpinannya.
Menurut Blatter, investor yang mengejar pengaruh dan keuntungan bertentangan dengan prinsip asosiasi yang mengikuti kepentingan anggotanya. "Piala Dunia FIFA bukanlah aset komersial milik segelintir eksekutif. Itu adalah bagian dari warisan budaya sepak bola dunia. FIFA adalah penjaga Piala Dunia, bukan pemiliknya," tegasnya.
Bagi Indonesia, rencana ini patut dicermati mengingat Piala Dunia U-20 2023 sempat menjadi sorotan terkait intervensi politik. Jika FIFA semakin terbuka pada investor, dikhawatirkan keputusan turnamen di masa depan bisa dipengaruhi oleh kepentingan bisnis, bukan lagi semangat olahraga. Hal ini berpotensi mengubah peta persepak bolaan global, termasuk akses negara berkembang untuk menjadi tuan rumah.
Blatter mengingatkan bahwa sepak bola modern telah bertahan lebih dari satu abad karena milik rakyat. "Prinsip itu tidak boleh berubah," katanya. Namun, dengan langkah FIFA yang kian agresif secara komersial, muncul pertanyaan: akankah Piala Dunia tetap menjadi milik publik, atau perlahan beralih ke tangan segelintir investor?



