Baru Merdeka dari Xbox, Double Fine Productions PHK 23 Karyawan
Baca dalam 60 detik
- Double Fine Productions memberhentikan 23 karyawan hanya tiga pekan setelah dilepas Microsoft.
- Studio pengembang Psychonauts itu sebelumnya mempekerjakan sekitar 90 orang; PHK dilakukan demi kelangsungan bisnis.
- Langkah ini memicu pertanyaan tentang masa depan studio independen di tengah konsolidasi industri game global.

Tiga pekan setelah resmi berpisah dari Xbox, Double Fine Productions—studio di balik seri Psychonauts—justru harus memangkas 23 karyawannya. Keputusan ini diambil untuk menjaga kelangsungan studio yang sebelumnya menaungi sekitar 90 orang.
Pada awal Juli 2026, Microsoft melepas empat studio game dalam restrukturisasi besar-besaran, termasuk Double Fine dan Compulsion Games. Langkah itu sempat disambut sebagai babak baru kemandirian bagi studio kreatif seperti Double Fine. Namun, kenyataan pahit datang cepat: tanpa sokongan dana dan infrastruktur raksasa seperti Xbox, beban operasional menjadi tantangan langsung.
Menurut informasi yang beredar, PHK ini bersifat struktural dan bukan terkait kinerja proyek tertentu. Double Fine belum mengumumkan proyek baru pasca-Psychonauts 2, dan ketidakpastian portofolio menjadi salah satu faktor yang mendorong efisiensi. Industri game global saat ini memang tengah mengalami gelombang PHK besar-besaran, dengan lebih dari 10.000 pekerja kehilangan pekerjaan sepanjang 2025–2026.
Bagi industri game Indonesia, kisah Double Fine menjadi pengingat bahwa kemandirian finansial tidak selalu berarti stabilitas. Banyak studio indie Tanah Air yang bergantung pada penerbit besar atau pendanaan proyek jangka pendek. Ketika raksasa seperti Xbox memangkas portofolio, efek domino bisa terasa hingga ke pengembang kecil di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang kerap menjadi mitra outsourcing atau co-developer.
Analis industri memperkirakan tren konsolidasi akan terus berlanjut. “Studio yang tidak memiliki waralaba kuat atau pendanaan mandiri akan kesulitan bertahan dalam ekosistem pasca-PHK massal,” ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya. Double Fine, meski memiliki reputasi gemilang, kini harus membuktikan bahwa kreativitas bisa bertahan tanpa naungan korporat.
Ke depan, pertanyaan besar menggantung: apakah Double Fine akan mampu merilis proyek baru yang cukup menguntungkan untuk menopang operasional, atau justru menjadi studio berikutnya yang tutup? Jawabannya mungkin baru terlihat dalam satu hingga dua tahun ke depan, saat industri game global mulai menemukan keseimbangan baru.



