Hukuman Unik di Brasil: Bek Digantung Sampai Korban Pulih
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan Olahraga Brasil menjatuhkan sanksi tak biasa kepada bek Internacional, Victor Gabriel, yang durasinya dikaitkan dengan masa pemulihan korban cedera.
- Keputusan ini memicu perdebatan tentang keadilan restoratif dalam sepak bola, di mana hukuman tidak lagi bersifat tetap melainkan dinamis berdasarkan kondisi korban.
- Kasus ini bisa menjadi preseden bagi federasi sepak bola lain, termasuk Indonesia, untuk mempertimbangkan pendekatan serupa dalam menangani pelanggaran berat.

Pengadilan Olahraga Brasil (STJD) menjatuhkan sanksi yang tak lazim kepada bek Internacional, Victor Gabriel, setelah ia melanggar keras Gabriel Pec dari Cruzeiro hingga menyebabkan patah tulang kering kiri. Hukuman ini tidak berdurasi tetap, melainkan akan berakhir paling lambat enam bulan atau saat Pec pulih sepenuhnya—mana yang lebih dulu tercapai.
Insiden terjadi pada laga Serie A Brasil, 22 Juli lalu, saat Victor Gabriel melakukan tekel sembrono yang berujung pada cedera serius. Pec, yang baru saja bergabung dengan Cruzeiro dari LA Galaxy, harus ditarik keluar pada laga debutnya. Kemenangan 2-0 Cruzeiro menjadi catatan pahit bagi sang pemain anyar.
Dalam sidang, Victor Gabriel menyatakan penyesalan mendalam. “Ini adalah kejadian yang benar-benar tidak disengaja. Saya sudah meminta maaf dan menawarkan bantuan. Saya hanya bisa berdoa untuknya,” ujarnya. Namun, pengadilan menilai hukuman standar—biasanya berupa larangan bermain beberapa pertandingan—tidak cukup setimpal dengan dampak cedera yang dialami korban.
Keputusan STJD menyebutkan, “Pelanggar dapat tetap diskors hingga pihak yang cedera mampu kembali berlatih, dengan batas maksimal 180 hari.” Putusan ini masih bisa diajukan banding. Langkah ini dinilai sebagai bentuk keadilan restoratif yang jarang diterapkan dalam sepak bola profesional.
Kasus ini juga diwarnai kontroversi terkait bukti yang diajukan Internacional. Klub tersebut menggunakan rekaman audio VAR yang beredar di media sosial, namun keasliannya diragukan pengadilan. Internacional akhirnya meminta agar rekaman itu dikeluarkan dari berkas perkara, mengakui adanya kesalahan dalam pengumpulan bukti. “Kami tidak pernah berniat bertindak tidak itikad baik,” demikian pernyataan resmi klub.
Bagi sepak bola Indonesia, keputusan STJD ini bisa menjadi bahan diskusi menarik. Selama ini, sanksi untuk pelanggaran keras di Liga Indonesia cenderung bersifat administratif—skorsing sejumlah pertandingan atau denda. Pendekatan yang mengaitkan durasi hukuman dengan pemulihan korban dapat mendorong rasa tanggung jawab yang lebih besar dari pemain. Namun, tantangannya terletak pada objektivitas penentuan masa pemulihan dan potensi penyalahgunaan oleh pihak tertentu.
Ke depannya, apakah model hukuman seperti ini akan diadopsi oleh federasi sepak bola lain? Atau justru menimbulkan perdebatan baru tentang batas kewenangan pengadilan olahraga? Yang jelas, kasus Victor Gabriel telah membuka diskusi tentang bagaimana sepak bola dapat lebih manusiawi dalam menangani cedera akibat pelanggaran.



