Transaksi Saham Tembus Rp50 Triliun, IHSG Justru Terkoreksi: Sinyal Pasar Menanti Kebijakan DHE
Baca dalam 60 detik
- Volume perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia menembus Rp50,15 triliun pada Jumat (29/5/2026), tertinggi dalam beberapa bulan, namun IHSG ditutup melemah tipis.
- Aksi rebalancing portofolio oleh investor besar menjelang implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan data ekonomi global menjadi pemicu utama lonjakan transaksi.
- Emiten Grup Barito dan saham perbankan big caps mendominasi nilai transaksi, mengindikasikan pergeseran aliran dana menjelang perubahan regulasi yang berdampak pada likuiditas dolar dan sektor komoditas.

Nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) melonjak hingga Rp50,15 triliun pada Jumat (29/5/2026), mencatat volume 47,21 miliar saham dalam 2,38 juta kali transaksi. Namun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berakhir di zona merah setelah sempat melesat 1,43% pada sesi pertama, menandakan tekanan jual di akhir perdagangan memperpanjang koreksi sejak libur Idul Adha.
Lonjakan transaksi ini tidak lepas dari aksi penyesuaian portofolio investor besar menjelang sejumlah agenda krusial pemerintah. Analis Doo Financial Lukman Leong menilai, implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan sistem ekspor satu pintu yang mulai berlaku 1 Juni menjadi katalis utama. "Pelaku pasar mulai menyesuaikan portofolio untuk mengantisipasi dampak terhadap likuiditas dolar domestik, nilai tukar rupiah, serta prospek emiten eksportir dan komoditas," ujarnya.
Tekanan tambahan datang dari rilis data ekonomi Amerika Serikat, China, dan Indonesia yang turut mempengaruhi sentimen. IHSG yang sempat menyentuh level 6.217,88 pada sesi pertama akhirnya ditutup di 6.127,38, turun tipis 0,05%. Dari 817 saham yang diperdagangkan, 271 menguat, 409 melemah, dan 137 stagnan, menunjukkan dominasi aksi jual.
Emiten Grup Barito mencatatkan penguatan signifikan di tengah rebalancing MSCI, sementara tekanan justru datang dari saham perbankan berkapitalisasi besar. Analis MNC Sekuritas Herditya menambahkan, pergerakan IHSG sangat volatil: "Pada pre-opening sempat merah, lalu hijau sepanjang hari, dan akhirnya terkoreksi tipis. Ini menandakan pasar sedang mencari arah."
Bagi investor Indonesia, fenomena ini memberikan sinyal penting. Kebijakan DHE yang mewajibkan eksportir menempatkan devisa hasil ekspor di dalam negeri berpotensi mengerek likuiditas dolar dan memperkuat rupiah, namun juga bisa mengubah aliran dana ke sektor komoditas. Sementara itu, rebalancing MSCI kerap memicu pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar secara mendadak. Pertanyaan besarnya: akankah IHSG mampu bertahan di level psikologis 6.100, atau justru melanjutkan koreksi menuju 6.000?



