Harga Durian di China Anjlok, Fenomena 'Kebebasan Durian' Mewabah
Baca dalam 60 detik
- Pasokan durian dari Thailand dan Vietnam melimpah, ditambah musim panen buah musim panas, membuat harga durian di China turun 10-20% dibanding tahun lalu.
- Fenomena 'durian freedom' ramai di media sosial China, di mana harga durian yang sebelumnya 300-400 yuan per buah kini bisa di bawah 100 yuan.
- Penurunan harga ini juga dipicu oleh perbaikan logistik rantai dingin dan integrasi pasar domestik China, serta berdampak pada buah premium lain seperti ceri dan leci.

Harga durian di pasar China mengalami penurunan signifikan dalam beberapa pekan terakhir, dipicu oleh melonjaknya volume impor dari Thailand dan Vietnam serta masuknya musim panen buah musim panas. Fenomena yang disebut netizen China sebagai 'kebebasan durian' ini membuat buah yang semula tergolong mewah kini lebih terjangkau bagi konsumen kelas menengah.
Berdasarkan data dari Pasar Grosir Xinfadi Beijing, harga rata-rata durian Monthong asal Thailand pada 26 Mei lalu berada di angka 24,15 yuan per 500 gram. Angka ini hampir tidak berubah dibandingkan tahun lalu, namun turun 14 persen dari awal April. Sementara itu, durian Monthong asal Vietnam mengalami penurunan lebih drastis: harga grosirnya merosot lebih dari 40 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan lebih dari 30 persen secara tahunan, menjadi sekitar 18 yuan per 500 gram. Di tingkat ritel, jaringan seperti Sam's Club menjual durian Monthong Thailand seberat 3-3,75 kg dengan harga sekitar 199 yuan.
He Huaxin, kepala pembelian komunitas di Pasar Xinfadi, mengungkapkan bahwa volume penjualan durian secara keseluruhan meningkat lebih dari 20 persen dibandingkan tahun lalu. "Durian dari berbagai negara kini memasuki pasar, dengan varietas Vietnam menunjukkan momentum pertumbuhan yang sangat kuat," ujarnya. China tetap menjadi importir dan konsumen durian terbesar di dunia, mencakup sekitar 82 persen konsumsi global. Permintaan yang tinggi ini mendorong negara-negara produsen di Asia Tenggara untuk mempercepat budidaya dan ekspor.
Analis menilai penurunan harga durian juga mencerminkan perbaikan logistik dan distribusi di China, terutama perluasan transportasi rantai dingin yang didukung upaya pemerintah membangun pasar domestik yang lebih terintegrasi. Tren ini tidak hanya terjadi pada durian. Harga ceri di China hampir setengahnya dari awal tahun, sementara harga leci juga turun tajam seiring melimpahnya pasokan. Data dari platform Dewu.com menunjukkan, harga kemasan 1 kg ceri Grade 3 domestik turun dari 189 yuan pada awal Maret menjadi 108 yuan pada Mei, atau turun hampir 45 persen. Di Provinsi Hainan, pusat produksi leci, pengiriman harian berulang kali melampaui 10.000 metrik ton, dengan total kumulatif mencapai hampir 88.000 ton hingga 8 Mei, naik 289 persen dari tahun lalu.
Bagi Indonesia, tren ini membawa peluang sekaligus tantangan. Sebagai salah satu produsen durian terbesar di Asia Tenggara, Indonesia berpotensi meningkatkan ekspor durian ke China, terutama varietas lokal seperti durian Medan atau durian Banyuwangi. Namun, persaingan dengan Thailand dan Vietnam yang sudah memiliki akses pasar dan rantai pasok yang matang menjadi hambatan. Selain itu, standar kualitas dan keamanan pangan China yang ketat memerlukan investasi dalam teknologi pascapanen dan logistik rantai dingin. Pemerintah Indonesia perlu mendorong kerja sama bilateral untuk mempercepat sertifikasi dan akses pasar, serta mendukung petani lokal dalam meningkatkan kualitas produksi.
Ke depan, penurunan harga durian di China diperkirakan akan berlanjut seiring masuknya musim panen puncak dari berbagai negara produsen. Pertanyaannya, apakah 'kebebasan durian' hanya bersifat musiman atau akan menjadi tren jangka panjang yang mengubah pola konsumsi buah premium di China? Bagi produsen Asia Tenggara, termasuk Indonesia, jawabannya terletak pada kemampuan beradaptasi dengan dinamika pasar dan peningkatan daya saing melalui inovasi dan efisiensi.



