Roma Tersungkur: Direktur Olahraga Massara Angkat Kaki, Ikuti Ranieri
Baca dalam 60 detik
- Frederic Massara resmi hengkang dari jabatan direktur olahraga Roma setelah hanya satu musim menjabat, menyusul kepergian senior advisor Claudio Ranieri.
- Keputusan ini dipicu konflik internal yang tak terbendung antara pelatih Gian Piero Gasperini dengan Ranieri, yang berujung pada perombakan manajemen klub.
- Langkah Roma mempertahankan Gasperini dan melepas dua petinggi ini menjadi sinyal kuat arah baru klub Serie A tersebut.

AS Roma kembali mengguncang jagat sepak bola Italia dengan mengumumkan pemutusan kontrak secara sepihak terhadap direktur olahraga Frederic Massara. Keputusan ini diambil hanya sebulan setelah senior advisor Claudio Ranieri meninggalkan Stadio Olimpico, mempertegas gelombang perubahan di tubuh klub ibu kota.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Senin (12/5) waktu setempat, Roma menyebut kesepakatan bersama telah dicapai untuk mengakhiri hubungan kerja dengan Massara. Padahal, pria asal Italia itu baru bergabung pada awal musim 2025/2026 dan berjasa membawa Roma lolos ke Liga Champions musim depan. Namun, berbagai laporan media Italia mengindikasikan bahwa hubungan Massara dan Ranieri dengan pelatih Gian Piero Gasperini sudah retak sejak lama.
Konflik internal yang tak kunjung mereda menjadi biang kerok. Ranieri dan Gasperini kerap saling sindir di depan publik, bahkan dikabarkan tak lagi bertegur sapa di pusat latihan Trigoria. Situasi ini dinilai tidak sehat dan memaksa manajemen Roma mengambil sikap tegas: mempertahankan Gasperini sebagai nahkoda tim, dan menyingkirkan dua figur yang dianggap sebagai sumber ketidakstabilan.
Kepergian Massara dan Ranieri menimbulkan tanda tanya besar soal arah kebijakan transfer Roma ke depan. Massara, yang sebelumnya sukses di AC Milan, dianggap sebagai arsitek di balik beberapa rekrutan strategis. Tanpa dirinya, Gasperini diprediksi akan mendapat kendali lebih besar dalam menentukan komposisi skuad. Bagi pengamat sepak bola Italia, langkah ini bisa menjadi pedang bermata dua: memperkuat otoritas pelatih, atau justru memicu ketidakseimbangan baru di ruang ganti.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisruh Roma ini menjadi pengingat betapa rapuhnya harmoni di klub besar Eropa. Konflik internal yang berlarut-larut seringkali berujung pada penurunan performa tim, seperti yang dialami Manchester United atau Barcelona dalam beberapa musim terakhir. Jika Roma tak segera menemukan pengganti yang tepat, ambisi mereka untuk bersaing di level tertinggi Liga Champions bisa terancam.
Roma kini harus bergerak cepat mencari direktur olahraga baru. Nama-nama seperti Giovanni Rossi (eks Sassuolo) dan Sean Sogliano (Verona) mulai disebut-sebut. Namun, yang lebih krusial adalah memastikan bahwa siapa pun yang datang bisa bekerja selaras dengan Gasperini. Jika tidak, siklus konflik dan perombakan manajemen bisa kembali terulang. Pertanyaan besarnya: akankah Roma belajar dari kekacauan ini, atau justru terperosok lebih dalam?



