McCullum Akui Salah Membaca Tekanan: Inggris Harus Terima Konsekuensi Kekalahan Ashes
Baca dalam 60 detik
- Pelatih kepala Inggris Brendon McCullum mengakui kesalahan dalam mempersiapkan tim menghadapi tekanan Ashes di Australia, yang berujung pada kekalahan 4-1.
- McCullum menegaskan tim harus belajar dari pengalaman pahit itu dan membangun kembali kepercayaan publik dengan memenangkan momen-momen krusial di seri besar.
- Perombakan skuad dan pendekatan dilakukan, termasuk kemungkinan perubahan posisi batting Ben Stokes dan Jamie Smith, serta penambahan staf pendukung.

Kekalahan telak 4-1 dari Australia dalam seri Ashes musim panas lalu menjadi pukulan berat bagi tim kriket Inggris. Pelatih kepala Brendon McCullum, yang tetap mempertahankan posisinya setelah evaluasi internal, mengakui bahwa dirinya salah menakar kesiapan tim dalam menghadapi tekanan luar biasa yang menyertai tur tandang ke Negeri Kanguru. Dalam wawancara eksklusif dengan BBC Sport, McCullum menyatakan timnya harus siap menerima konsekuensi dari kegagalan tersebut.
McCullum, yang akan memimpin Inggris menghadapi Selandia Baru di Lord's pada Kamis ini, mengakui bahwa harapan besar yang digantungkan pada timnya tidak terwujud. “Kami memiliki peluang, tetapi tidak memanfaatkannya, dan kami kalah. Ini menyakitkan bagi pemain, keluarga, staf, dan para penggemar yang telah mendukung,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kini saatnya menghadapi “backlash” atau reaksi negatif yang muncul pasca-kekalahan.
Sejak diperkenalkan pada 2022, pendekatan agresif ‘Bazball’ ala McCullum dan kapten Ben Stokes sempat menuai sukses gemilang dengan 10 kemenangan dari 11 laga awal. Namun, tren tersebut berbalik: dalam 33 laga berikutnya, Inggris mencatatkan 17 kekalahan dan hanya 16 kemenangan, serta gagal memenangkan satu pun seri lima pertandingan melawan Australia atau India. Kekalahan di Australia memperparah catatan buruk itu, dengan batting yang rentan ambruk, bowling yang tidak konsisten, dan catching yang buruk.
Masalah tidak hanya di lapangan. Persiapan yang minim, staf pendukung yang terbatas, serta tuduhan budaya minum-minuman keras—termasuk insiden wakil kapten Harry Brook dipukul oleh bouncer klub malam di Wellington dan liburan tengah Ashes yang penuh alkohol di Noosa—menjadi sorotan. McCullum mengakui bahwa ia terlalu optimis menilai kesiapan timnya. “Saya pikir kami siap, tetapi ternyata tidak. Saya salah dalam menilai kesiapan kami menghadapi tekanan,” katanya.
Untuk memperbaiki situasi, Inggris telah menambah pelatih, memberlakukan jam malam tengah malam, dan akan mendatangkan koki tetap. McCullum menekankan pentingnya memenangkan momen-momen krusial dalam pertandingan besar. “Jika kami bisa bermain agresif namun lebih cerdas di momen-momen penting, dan memenangkan pertandingan besar, maka kepercayaan akan kembali,” ujarnya. Ia juga mengakui bahwa gayanya mungkin tidak disukai semua orang, tetapi ia tetap yakin dengan pendekatannya.
Menjelang laga melawan Selandia Baru, Inggris akan memberikan debut kepada pembuka Emilio Gay, sementara Jacob Bethell diperkirakan fit untuk mengisi posisi nomor tiga. Ollie Robinson dipanggil kembali setelah dua tahun absen, dan kemungkinan perubahan posisi batting antara Stokes dan Smith sedang dipertimbangkan. McCullum mengisyaratkan bahwa perubahan itu cenderung terjadi, dengan tujuan memaksimalkan performa kedua pemain.
Kontrak McCullum berakhir pada musim gugur 2027, dan seri Ashes kandang musim panas mendatang bisa menjadi ujian terakhirnya. Inggris belum memegang piala Ashes selama hampir satu dekade dan belum memenangkan seri lima pertandingan sejak 2018. McCullum berharap kekalahan di Australia menjadi pelajaran berharga. “Pelajaran yang kami terima harus memacu kami ke depan, jika tidak, itu hanya akan menjadi kekalahan dan kekecewaan belaka,” pungkasnya.



