Jaket Dinas Ditemukan di TKP: Pria Diduga Bunuh Diri di Cawang Pernah Jadi PJLP LH
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria ditemukan tewas di bawah Jembatan Cawang dengan jaket Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta di motornya.
- Pemprov DKI mengonfirmasi korban, Iwan, pernah bekerja sebagai PJLP di Sudin LH Jakpus, namun sudah mengundurkan diri sejak September 2023.
- Kasus ini menyoroti tekanan psikologis pekerja informal di Jakarta, sekaligus mengingatkan pentingnya akses layanan kesehatan mental.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3349413/original/030667000_1610633903-pexels-guilman-5960469.jpg)
Jaket oranye bertuliskan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat yang ditemukan di jok sepeda motor korban menjadi petunjuk awal identitas pria yang diduga bunuh diri di Jembatan Cawang, Jumat (29/5/2026). Peristiwa yang terekam dalam video amatir dan viral di media sosial ini memicu pertanyaan tentang tekanan yang dialami pekerja harian di ibu kota.
Dalam video yang beredar di akun Instagram @balewartawanjakpus10, korban tampak telungkup di bawah jembatan, sementara sepeda motor hitamnya masih berada di atas jalan raya. Warga yang melintas mengamankan kendaraan tersebut sebelum akhirnya ditemukan jaket dinas di dalam jok. Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yogi Ikhwan, membenarkan bahwa korban bernama Iwan dan pernah tercatat sebagai pegawai Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) di Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Pusat, tepatnya di unit Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3).
Yogi menegaskan bahwa Iwan sudah tidak lagi bekerja di lingkungan Sudin LH Jakarta Pusat sejak 1 September 2023 karena mengundurkan diri. Meski demikian, keberadaan jaket dinas di lokasi kejadian memunculkan spekulasi mengenai keterkaitan antara tekanan pekerjaan dan tindakan nekat tersebut. Pihak DLH DKI menyampaikan duka cita dan mendoakan korban, namun belum memberikan pernyataan lebih lanjut terkait kemungkinan faktor pemicu.
Kasus ini menyoroti rentannya kondisi psikologis pekerja informal di Jakarta, khususnya PJLP yang kerap bekerja dengan beban ganda—upah minim, jam kerja panjang, dan jaminan sosial terbatas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pekerja informal di DKI Jakarta mencapai lebih dari 40% dari total angkatan kerja, dan akses terhadap layanan kesehatan mental masih sangat terbatas. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Rara Sekar, menilai bahwa kejadian seperti ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk memperkuat program kesejahteraan mental di kalangan pekerja rentan.
Pemprov DKI sendiri telah memiliki program seperti Jakarta Sehat Jiwa dan aplikasi Sahabatku, namun sosialisasi dan aksesibilitasnya masih perlu ditingkatkan. Halo Kemenkes 1500-567 juga tersedia 24 jam bagi siapa pun yang membutuhkan bantuan psikologis. Namun, masih banyak pekerja yang tidak mengetahui atau enggan memanfaatkan layanan tersebut karena stigma sosial.
Ke depan, DLH DKI Jakarta dan instansi terkait perlu mengevaluasi sistem dukungan bagi tenaga PJLP, termasuk penyediaan konseling rutin dan jalur pelaporan tekanan kerja. Pertanyaan yang mengemuka: apakah cukup hanya dengan ucapan belasungkawa, atau perlu kebijakan konkret untuk mencegah tragedi serupa? Bunuh diri bukanlah solusi, dan setiap nyawa yang hilang adalah pengingat bahwa kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama.



