Jalan Lenteng Agung Ambles 3 Meter: Saluran Air Bawah Tanah Diduga Kopong
Baca dalam 60 detik
- Jalan Raya Lenteng Agung ambles sedalam 3 meter pada Kamis (28/5/2026), dipicu saluran air bawah tanah yang kosong.
- Pemprov DKI Jakarta menurunkan Bina Marga dan SDA untuk penanganan darurat, namun jalan kembali retak pada sore hari.
- Kemacetan parah terjadi di sekitar lokasi, berdampak pada ribuan pengguna jalan menuju Depok dan UI.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7240734/original/036437200_1780025633-IMG_0164.jpeg)
Lubang menganga sedalam tiga meter tiba-tiba muncul di Jalan Raya Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Kamis (28/5/2026), memicu kemacetan panjang dan kekhawatiran akan keselamatan pengguna jalan. Peristiwa ini diduga kuat akibat saluran air di bawah badan jalan yang telah kosong dan mengalami kerusakan struktural.
Kepala Suku Dinas Bina Marga Jakarta Selatan, Rifki Rismal, mengungkapkan bahwa laporan pertama diterima dari warga dan petugas PPSU pada Rabu malam. Namun, karena kondisi gelap, pemantauan baru dilakukan Kamis pagi. Tim langsung melakukan penambalan sementara dengan coldmix untuk mengamankan lokasi. "Penanganan awal dilakukan bersamaan dengan koordinasi dengan Suku Dinas Sumber Daya Air karena dugaan kerusakan utama berasal dari saluran air di bawah jalan," ujar Rifki, Jumat (29/5/2026).
Setelah penanganan awal, tim SDA memeriksa saluran air dan menemukan bahwa struktur bawah tanah sudah dalam kondisi kopong. "Kondisi di bawah jalan memang sudah kosong dan membutuhkan penanganan serius oleh SDA," tambah Rifki. Sayangnya, pada Kamis sore, jalan kembali retak dan ambles, memaksa petugas memasang water barrier untuk mencegah kecelakaan.
Dampak langsung terasa pada arus lalu lintas. Sejak pukul 09.00 WIB, kemacetan merayap dari Jalan Lontar hingga Lenteng Agung Raya arah Depok dan Universitas Indonesia. Pengendara motor terlihat menyelip di antara mobil, sementara bus TransJakarta berjalan perlahan. Beberapa penumpang memilih turun di Stasiun Lenteng Agung untuk menghindari kepadatan. "Rute hanya sampai Wijaya Kusuma, lalu putar balik ke Universitas Pancasila," kata Muhammad Arif, seorang warga.
Kemacetan ini terjadi pada hari kedua setelah Idul Adha, yang biasanya meningkatkan volume kendaraan. Seorang relawan, Rafli Zulkarnaen, melaporkan adanya warga yang nyaris terjatuh ke lubang karena melawan arus, hingga akhirnya dibantu oleh Damkar, Bina Marga, dan warga setempat. Insiden ini menyoroti kerentanan infrastruktur Jakarta terhadap kerusakan saluran air bawah tanah yang tidak terawat.
Bagi pengguna jalan, terutama yang setiap hari melintasi Lenteng Agung menuju Depok atau UI, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya pemeliharaan infrastruktur secara berkala. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diharapkan tidak hanya melakukan perbaikan darurat, tetapi juga audit menyeluruh terhadap saluran air di titik-titik rawan lainnya. Pertanyaan yang muncul: berapa banyak lagi ruas jalan di Jakarta yang menyimpan 'bom waktu' serupa di bawah permukaannya?



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7438136/original/047766900_1780214462-Ombak_Bali.jpeg)