Ledakan Dahsyat di Myanmar Utara Tewaskan Puluhan Warga, Bahan Peledak Tambang Diduga Jadi Penyebab
Baca dalam 60 detik
- Ledakan di wilayah Shan, Myanmar utara, menewaskan sedikitnya 46 orang dan melukai lebih dari 70 lainnya, menurut petugas penyelamat.
- Kelompok etnis bersenjata TNLA mengaku bahan peledak yang disimpan untuk keperluan tambang meledak secara tidak sengaja.
- Peristiwa ini terjadi di tengah perang saudara Myanmar pasca-kudeta militer 2021, menambah daftar panjang korban sipil konflik.

Ledakan besar mengguncang kawasan utara Myanmar pada Minggu (31/5), menewaskan puluhan warga sipil dan melukai lebih dari 70 orang. Peristiwa yang terjadi di Negara Bagian Shan ini diduga berasal dari ledakan bahan peledak tambang yang disimpan oleh kelompok etnis bersenjata Ta'ang National Liberation Army (TNLA).
Dua petugas penyelamat yang berbicara dengan syarat anonim karena alasan keamanan memberikan angka korban yang berbeda. Seorang petugas pertama melaporkan 46 orang tewas, termasuk anak-anak, sementara petugas lainnya menyebut angka 59 korban jiwa. Keduanya sepakat bahwa jumlah korban luka mencapai lebih dari 70 orang. Perbedaan data ini menunjukkan kekacauan di lokasi kejadian dan keterbatasan akses informasi di wilayah konflik.
TNLA, salah satu faksi etnis minoritas paling kuat di Myanmar, mengakui bahwa bahan peledak tersebut milik departemen ekonominya. Dalam pernyataan resmi, kelompok itu menyebut ledakan terjadi sekitar pukul 12.00 waktu setempat di Kotapraja Namhkam, Shan, dan disebabkan oleh "ledakan tidak sengaja" dari bahan peledak yang disimpan untuk keperluan pertambangan dan penggalian batu. TNLA menyatakan penyelidikan masih berlangsung untuk mengetahui penyebab pasti insiden.
Ledakan ini menjadi pengingat getir akan dampak konflik berkepanjangan di Myanmar. Sejak militer merebut kekuasaan melalui kudeta pada 2021, negara itu terjerumus dalam perang saudara yang melibatkan pasukan pemerintah, gerilyawan pro-demokrasi, dan kelompok etnis bersenjata. Wilayah Shan, yang kaya akan sumber daya alam dan menjadi basis beberapa kelompok etnis, kerap menjadi medan pertempuran dan menyimpan risiko kecelakaan akibat penyimpanan bahan peledak yang tidak aman.
Bagi Indonesia, tragedi ini relevan mengingat posisi Indonesia sebagai Ketua ASEAN pada 2023 yang lalu dan keterlibatannya dalam mendorong dialog damai di Myanmar. Konsensus Lima Poin ASEAN yang disepakati pada 2021 belum menunjukkan kemajuan berarti, sementara kekerasan terus memakan korban sipil. Ledakan di Shan ini menambah urgensi bagi komunitas internasional, termasuk Indonesia, untuk mendorong akses kemanusiaan dan perlindungan warga sipil di Myanmar.
Ke depan, pertanyaan besar masih menggantung: apakah kelompok bersenjata seperti TNLA mampu mengamankan persenjataan dan bahan peledak mereka di tengah perang? Atau justru insiden seperti ini akan semakin sering terjadi seiring meluasnya konflik? Yang jelas, warga sipil kembali menjadi korban, baik akibat pertempuran maupun kecelakaan yang bisa dihindari.



