Karhutla Sumsel Januari–April 2026 Meluas 182,5 Hektare, Tiga Kali Lipat dari Tahun Lalu
Baca dalam 60 detik
- Luas kebakaran hutan di Sumsel pada empat bulan pertama 2026 mencapai 182,54 hektare, meningkat drastis dibanding 5 hektare pada periode sama 2025.
- Musi Rawas Utara menjadi wilayah terparah dengan 53,2 hektare lahan terbakar, disusul Musi Banyuasin dan Muara Enim.
- Pemerintah waspadai peningkatan risiko karhutla jelang musim kemarau, meski luasan masih di bawah rekor 2023 yang mencapai 995 hektare.

Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan pada Januari hingga April 2026 tercatat 182,54 hektare, melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sekitar 5 hektare. Data ini menjadi sinyal peringatan dini bagi pemerintah daerah dan pusat untuk mengintensifkan pencegahan sebelum puncak musim kemarau tiba.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera, Ferdian Kristanto, mengungkapkan bahwa angka tersebut merupakan hasil rekapitulasi sementara dari analisis citra satelit yang dilakukan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Kementerian Lingkungan Hidup. Delapan kabupaten di Sumsel terdeteksi mengalami kebakaran, dengan Musi Rawas Utara (Muratara) sebagai wilayah terluas, mencapai 53,2 hektare.
“Luas karhutla pada Januari–April 2026 di Sumsel berdasarkan hasil analisis citra satelit mencapai 182,54 hektare,” ujar Ferdian dalam keterangan yang dikutip Antara, Minggu (31/5). Ia menambahkan bahwa lahan yang terbakar didominasi tanah mineral seluas 181,4 hektare, sementara lahan gambut yang terbakar hanya sekitar 1,1 hektare, tepatnya di Musi Banyuasin.
Meskipun angka tahun ini lebih tinggi dibanding 2024 (144,2 hektare) dan 2025 (5 hektare), luasan tersebut masih jauh di bawah rekor pada 2023 yang mencapai 995,3 hektare dan 2022 sebesar 485,1 hektare. Pola ini menunjukkan bahwa karhutla di Sumsel bersifat fluktuatif, namun tren peningkatan di awal 2026 patut diwaspadai.
Ferdian menekankan bahwa pemantauan dan upaya pencegahan terus dilakukan bersama pemerintah daerah, terutama menjelang musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di wilayah rawan. Ia menggarisbawahi pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan aparat dalam mendeteksi dini titik api, mengingat sebagian besar lahan yang terbakar adalah tanah mineral yang mudah terbakar saat kemarau.
Kebakaran hutan dan lahan di Sumsel tidak hanya mengancam ekosistem dan kesehatan masyarakat akibat kabut asap, tetapi juga berpotensi memicu kerugian ekonomi bagi sektor perkebunan dan kehutanan. Dengan luas lahan gambut yang terbatas, fokus utama saat ini adalah mengendalikan kebakaran di lahan mineral yang lebih cepat menyebar.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat mampu menekan luasan karhutla di bawah angka tahun lalu, atau justru akan kembali ke level ekstrem seperti 2023? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan, saat musim kemarau mencapai puncaknya.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508083/original/075320600_1771564548-Ahok_-_klaim_bantuan_facebook.jpg)


