Bola Tenis Bergambar Bendera Palestina Warnai Laga Irlandia: Kontroversi Lawan Israel Makin Memanas
Baca dalam 60 detik
- Aksi lempar bola tenis bergambar bendera Palestina menghentikan laga Irlandia vs Qatar dua kali di babak pertama.
- Gelandang Jamie McGrath memprediksi tekanan publik akan meningkat jelang dua pertandingan Nations League melawan Israel pada September-Oktober.
- FAI mengaku tak punya pilihan selain melanjutkan laga, sementara pemain seperti Nathan Collins membuka ruang bagi individu yang ingin memboikot.

Laga persahabatan Republik Irlandia melawan Qatar di Aviva Stadium, Kamis (12/9), diwarnai aksi protes yang menghentikan pertandingan dua kali di babak pertama. Sekelompok suporter melemparkan bola tenis bergambar bendera Palestina ke lapangan, sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pertemuan timnas Irlandia dengan Israel di ajang Nations League pada akhir bulan ini dan awal Oktober.
Gelandang Irlandia, Jamie McGrath, mengakui bahwa kontroversi ini akan semakin memanas dalam beberapa pekan ke depan. “Situasi ini unik. Kami harus mendengarkan suara para pengunjuk rasa, selama dilakukan dengan damai. Tapi sebagai pemain, kami tidak ingin terjebak dalam pusaran politik,” ujarnya kepada BBC Sport NI. McGrath menambahkan bahwa ia berharap pihak berwenang dapat menemukan solusi, namun ia mengaku tidak tahu pasti bagaimana prosesnya.
Pertandingan yang berakhir 1-0 untuk kemenangan Irlandia berkat sundulan Nathan Collins itu menjadi panggung protes yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Sebelum laga, Ireland Palestine Solidarity Campaign telah menggelar aksi di depan gedung parlemen Irlandia pada Selasa (10/9). Tekanan untuk memboikot laga melawan Israel terus menguat, seiring dengan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Asosiasi Sepak Bola Irlandia (FAI) menegaskan bahwa kedua laga tetap akan berjalan. CEO FAI, David Courell, menyatakan bahwa pihaknya “tidak punya pilihan” dan akan menghadapi “konsekuensi serius” jika mundur. Sementara itu, bek veteran Seamus Coleman sebelumnya menilai bahwa situasi ini seharusnya sudah ditangani oleh otoritas yang lebih tinggi, bukan dibebankan kepada pemain.
Menariknya, pelatih Irlandia, Heimir Hallgrimsson, memberikan pernyataan yang cukup kontroversial. Usai laga melawan Qatar, ia mengatakan bahwa jika para pengunjuk rasa “ingin menghancurkan pertandingan untuk kami, silakan saja.” Pernyataan ini menunjukkan ketegangan antara keinginan menjaga fokus sepak bola dan tekanan politik yang tak terhindarkan.
Bagi pembaca di Indonesia, dinamika ini mengingatkan pada situasi serupa ketika tim nasional atau klub olahraga dihadapkan pada isu politik internasional. Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang dalam menyikapi konflik Israel-Palestina, termasuk larangan bagi tim Israel untuk berlaga di tanah air. Kasus Irlandia ini bisa menjadi preseden bagaimana federasi sepak bola menyeimbangkan antara kepatuhan pada regulasi FIFA dan tekanan moral dari publik.
McGrath mengakui bahwa para pemain merasa tidak nyaman dengan posisi mereka. “Kami adalah pemain sepak bola, kami tidak ingin terlibat dalam hal ini. Tapi kadang kami tidak punya pilihan,” katanya. Pertanyaan besarnya kini: akankah tekanan publik mampu mengubah keputusan FAI, atau justru akan semakin mengokohkan sikap bahwa olahraga harus terpisah dari politik?



