Dari Gerrard hingga Messi: 10 Penampilan Terbaik di Final Liga Champions
Baca dalam 60 detik
- Steven Gerrard dinobatkan sebagai pemain dengan performa individu paling ikonik di final Liga Champions berkat aksinya membawa Liverpool bangkit dari ketertinggalan 0-3 atas AC Milan pada 2005.
- Deretan nama seperti Lionel Messi, Zinedine Zidane, dan Gareth Bale melengkapi daftar yang didominasi momen dramatis di menit-menit krusial.
- Daftar ini menjadi pengingat bahwa final Liga Champions kerap melahirkan pahlawan tak terduga, dari pemain pengganti hingga kiper yang tampil gemilang.

Final Liga Champions selalu menjadi panggung bagi para pemain untuk mengukir namanya dalam sejarah sepak bola Eropa. Menjelang duel Arsenal melawan Paris Saint-Germain, sebuah daftar sepuluh penampilan individu paling ikonik di partai puncak dirilis, menempatkan kapten Liverpool Steven Gerrard di posisi teratas berkat performa heroiknya pada final 2005 di Istanbul.
Gerrard menjadi motor kebangkitan Liverpool yang saat itu tertinggal 0-3 dari AC Milan di babak pertama. Hanya dalam waktu sembilan menit babak kedua, ia menyundul bola masuk ke gawang Dida, lalu memicu dua gol balasan dari Vladimir Smicer dan Xabi Alonso. Gerrard bermain di berbagai posisi—gelandang tengah, bek sayap—hingga kelelahan, namun tetap menjadi nyawa tim. Kiper Jerzy Dudek menjadi pahlawan adu penalti, tetapi Gerrard adalah simbol kebangkitan yang tak terbantahkan.
Di urutan kedua, Teddy Sheringham dari Manchester United mencatatkan namanya lewat dua gol krusial di menit tambahan waktu saat melawan Bayern Munich pada 1999. Sheringham, yang masuk sebagai pemain pengganti, menyamakan kedudukan sebelum assist untuk gol kemenangan Ole Gunnar Solskjaer. Sementara itu, Gareth Bale menempati posisi ketiga berkat dua gol spektakuler—sebuah tendangan salto dan tembakan jarak jauh—yang membawa Real Madrid menaklukkan Liverpool pada 2018.
Lionel Messi, yang menduduki peringkat keempat, menunjukkan kelasnya di final 2011 melawan Manchester United. Ia seolah bermain sendirian di Wembley, melewati pemain lawan dengan mudah, dan mencetak satu gol dari jarak 20 yard. Pelatih Pep Guardiola menyebut penampilan Messi sebagai yang terbaik yang pernah ia saksikan.
Posisi kelima ditempati Diego Milito, striker Inter Milan yang menjadi pahlawan treble winners pada 2010 dengan dua gol ke gawang Bayern Munich. Zinedine Zidane berada di urutan keenam berkat tendangan voli legendarisnya di final 2002, sementara kiper Oliver Kahn (2001) dan Didier Drogba (2012) masing-masing di posisi ketujuh dan kedelapan. Rodri (2023) dan Paul Lambert (1997) melengkapi daftar sepuluh besar.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, daftar ini mengingatkan bahwa final Liga Champions kerap menyajikan drama yang tak terlupakan. Momen-momen seperti kebangkitan Liverpool atau tendangan voli Zidane menjadi tontonan yang melampaui batas negara. Dengan semakin banyaknya pemain Asia yang berlaga di Eropa, bukan tidak mungkin suatu hari nanti akan ada nama dari Indonesia yang tampil gemilang di panggung ini.
Ke depan, pertanyaan yang muncul: akankah ada pemain baru yang mampu menyaingi performa Gerrard atau Messi? Atau justru momen-momen seperti inilah yang membuat Liga Champions tetap menjadi kompetisi paling bergengsi di dunia?



