Perayaan Juara PSG Berujung Rusuh: 780 Ditangkap, Macron Murka
Baca dalam 60 detik
- Polisi Prancis menangkap 780 orang setelah kerusuhan pecah saat perayaan gelar kedua PSG di Liga Champions, melukai 57 aparat.
- Presiden Macron mengecam keras aksi anarkis yang mencoreng kemenangan klub, menuntut penindakan tegas terhadap pelaku.
- Kerusuhan terjadi di 15 kota, mengulang pola destruktif dari perayaan serupa setahun lalu yang juga menimbulkan korban.

Pesta rakyat yang semula damai di bawah Menara Eiffel berubah menjadi mimpi buruk setelah kemenangan Paris Saint-Germain (PSG) di Liga Champions justru diwarnai aksi perusakan dan bentrok dengan aparat. Pemerintah Prancis mencatat 780 orang diamankan di berbagai kota, dengan 57 polisi terluka akibat serangan suporter yang bertindak di luar kendali.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez dalam konferensi pers, Minggu (1/6), mengakui sebagian besar perayaan berlangsung tertib. Namun, kerusuhan terkonsentrasi di kawasan Champs-Élysées dan sekitar Stadion Parc des Princes, tempat puluhan ribu suporter menonton pertandingan. “Situasi kini terkendali,” ujarnya, seraya menyebut 480 dari total penangkapan terjadi di wilayah Paris Raya.
Kemenangan dramatis PSG atas Arsenal melalui adu penalti di Budapest, Sabtu malam, memicu euforia yang meluap. Sekitar 20.000 orang memadati Champs-Élysées sambil menyalakan suar dan membunyikan klakson. Namun, euforia itu segera berubah menjadi aksi vandalisme: toko-toko dirusak, tempat sampah dan sepeda umum dibakar, serta mobil-mobil di jalan ikut menjadi sasaran amuk massa.
Presiden Emmanuel Macron yang menerima skuad PSG di Istana Élysée tak bisa menyembunyikan kekesalannya. “Saya tidak ingin kita terbiasa dengan ini. Ini bukan sepak bola, ini bukan olahraga, ini bukan yang kita cintai,” tegas Macron. Ia memastikan tidak akan memberi toleransi kepada para pelaku kekerasan. “Sudah cukup. Ini harus berakhir.”
Di tengah kekacauan, sebuah kecelakaan lalu lintas terjadi ketika seorang pengemudi kehilangan kendali dan menabrak teras restoran, menyebabkan dua orang terluka, satu di antaranya kritis. Polisi juga lima kali turun tangan mencegah aksi pemblokiran jalan lingkar utama Paris. Di kawasan 8th Arrondissement yang elit, sekelompok massa bahkan mencoba menyerbu kantor polisi sebelum berhasil dibubarkan.
Wali Kota Paris Emmanuel Grégoire memuji “mayoritas warga Paris yang merayakan dengan sukacita dan rasa hormat”, namun mengecam keras tindakan anarkis yang mencoreng momen bersejarah klub. Ironisnya, pola kerusuhan serupa pernah terjadi pada perayaan gelar pertama PSG di Liga Champions, Mei 2025, yang saat itu mencederai 201 orang dan menyebabkan lebih dari 500 penangkapan di seluruh negeri.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah euforia kemenangan selalu berujung pada kekerasan? Ataukah Prancis perlu merumuskan ulang tata cara perayaan olahraga agar semangat juang di lapangan tidak berubah menjadi amuk di jalan?



