Balita 2,5 Tahun Tewas Bersimbah Darah di Bekasi, Paman Berstatus ODGJ Terluka Parah
Baca dalam 60 detik
- Seorang balita ditemukan tewas dengan lebih dari sepuluh luka tusuk dan sayatan di kontrakan Jatisampurna, Bekasi, bersama pamannya yang mengalami luka serius.
- Pelaku berinisial G (18) memiliki riwayat gangguan jiwa dan telah dua hari berhenti minum obat karena keterbatasan biaya keluarga.
- Polisi masih menunggu kondisi G pulih untuk dimintai keterangan, sementara nenek korban yang pertama kali menemukan kejadian sempat membersihkan pisau karena syok.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7183572/original/042519500_1779979517-rumah_kontrakan_bekasi.jpg)
Seorang balita berusia dua setengah tahun ditemukan tewas mengenaskan di dalam kamar kontrakan di Jatisampurna, Kota Bekasi, Rabu malam (27/5/2026). Korban mengalami puluhan luka tusuk dan sayatan di sekujur tubuh, mulai dari kepala hingga selangkangan. Di lokasi yang sama, polisi menemukan paman korban berinisial G (18) dalam kondisi terluka parah dan masih hidup.
Peristiwa itu pertama kali diketahui oleh nenek korban yang baru pulang berjualan sekitar pukul 22.00 WIB. Saat memasuki kontrakan sederhana yang hanya terdiri dari satu ruang gabung dapur dan kamar, ia mendapati cucunya sudah tidak bernyawa dan anaknya—G—bersimbah darah. Sebilah pisau ditemukan di dekat keduanya. Karena mengalami syok berat, sang nenek secara spontan mencuci pisau tersebut sebelum polisi tiba.
Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota Kompol Andi Muhammad Iqbal mengungkapkan bahwa luka pada balita sangat parah dan jumlahnya diperkirakan lebih dari sepuluh. "Di kepala, wajah, badan, sampai selangkangan. Pipinya juga diiris sampai terbuka mulutnya," ujarnya, Kamis malam (28/5/2026). Sementara G mengalami luka tusuk di dada serta sayatan di kedua pipi dan kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Dari hasil penyelidikan sementara, G diketahui memiliki riwayat gangguan kejiwaan dan pernah menjalani perawatan psikiater. Ia rutin mengonsumsi obat, namun dua hari sebelum tragedi, keluarga tidak memiliki uang untuk membeli obat tersebut. "Korban tersebut pernah dibawa ke psikiater. Memang ada gangguan kejiwaan dan rutin konsumsi obat," kata Iqbal. Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa G mengalami episode psikotik saat melakukan aksinya.
Kasus ini menyoroti celah dalam penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Indonesia, terutama dari keluarga prasejahtera. Akses terhadap layanan kesehatan jiwa yang berkelanjutan masih menjadi tantangan, dan putus obat sering kali berujung pada kekambuhan yang berbahaya. Menurut data Kementerian Kesehatan, lebih dari 70% ODGJ berat di Indonesia tidak mendapatkan pengobatan secara teratur. Peristiwa di Bekasi ini menjadi pengingat pahit akan urgensi perluasan jaminan kesehatan jiwa yang terjangkau.
Polisi masih mendalami motif dan kronologi kejadian. "Untuk saat ini masih kita dalami. Kita tunggu kondisinya membaik dulu untuk diminta keterangan," ujar Iqbal. Sementara itu, nenek korban yang menjadi saksi kunci masih dalam pendalaman psikologis. Pertanyaan besar yang tersisa: apakah tragedi ini bisa dicegah jika akses obat jiwa lebih mudah dijangkau?



