Jeff Bezos Keliru: Sajak Tanpa Rima Bukanlah Puisi Mudah
Baca dalam 60 detik
- Jeff Bezos membandingkan subsidi The Washington Post dengan puisi tanpa rima, memicu kritik dari pegiat sastra.
- Sejarah sastra Inggris membuktikan bahwa puisi agung seperti Paradise Lost dan drama Shakespeare justru tidak mengandalkan rima akhir.
- Kekeliruan Bezos terletak pada penyamarataan antara indikator yang mudah diukur dengan kualitas substansial, baik dalam puisi maupun jurnalisme.

Jeff Bezos, pemilik The Washington Post, baru-baru ini memicu perdebatan sengit setelah menyamakan subsidi perusahaan pers dengan puisi tanpa rima—sebuah analogi yang dinilai keliru oleh para pakar sastra. Dalam pembelaannya terhadap pemutusan hubungan kerja massal di media tersebut, Bezos berargumen bahwa pembayaran dari konsumen merupakan sinyal relevansi, dan tanpa itu, produk jurnalistik akan menjadi seperti "puisi tanpa rima: terlalu mudah."
Pernyataan itu segera menuai cemoohan. Seorang mantan kritikus sastra The Washington Post membayangkan majalah Poetry menolak naskah The Waste Land karya T.S. Eliot karena dianggap kurang rima. Warganet pun merespons dengan sajak satire yang viral. Namun, di balik olok-olok itu, terdapat persoalan yang lebih mendasar: Bezos sebenarnya tidak sedang berbicara tentang rima, melainkan tentang kendala (constraint) sebagai syarat mutu.
Dalam sejarah puisi Inggris, rima bukanlah satu-satunya penanda kualitas. Puisi epik Beowulf dari era Inggris Kuno disusun berdasarkan pola tekanan suku kata, jeda dalam baris (caesura), dan aliterasi, bukan rima akhir. Baru setelah Penaklukan Norman, rima mulai mendominasi di bawah pengaruh Prancis. John Milton, dalam Paradise Lost, dengan sengaja menolak rima dan menyebutnya sebagai "bunyi gemerincing akhir yang sama" serta "perbudakan modern yang menyusahkan". Drama Shakespeare juga sebagian besar ditulis dalam blank verse—puisi tanpa rima yang mengandalkan irama dan gerak kalimat.
Puisi bebas (free verse) sering disalahpahami sebagai bentuk tanpa aturan. Padahal, seperti ditulis T.S. Eliot dalam Reflections on Vers Libre, "tidak ada kebebasan dalam seni." Menghilangkan rima tidak menghilangkan struktur, melainkan membuat pola lain—ritme, urutan kata, repetisi—menjadi lebih menonjol. Disiplin puisi bebas tidak kalah ketat; hanya saja tidak langsung terdengar.
Rima yang baik, seperti dalam karya Lord Byron atau Emily Dickinson, justru mengejutkan dan bermain dengan ketidakcocokan. Eminem pun membuktikan bahwa rima bisa diciptakan dari bunyi yang tak terduga, seperti "four-inch" dan "door hinge". Namun, rima yang buruk—yang hanya mekanis—sangat mudah dibuat. Kehadiran rima semata tidak menjamin kualitas, sama seperti profitabilitas tidak menjamin mutu jurnalistik.
Kekeliruan Bezos mencerminkan kecenderungan menyamakan indikator yang mudah diukur—rima dalam puisi, keuntungan dalam bisnis—dengan substansi. Sebuah koran bisa menghasilkan uang tetapi tetap dangkal; sebuah puisi bisa berima tetapi tetap gagal. Di Indonesia, analogi ini relevan dalam diskusi tentang model bisnis media: apakah kesediaan membayar benar-benar menjadi tolok ukur kualitas, atau justru menjebak redaksi dalam pragmatisme pasar?
Pertanyaan yang tersisa: apakah para pemimpin media akan belajar dari sejarah sastra bahwa kendala eksternal bukanlah jaminan mutu, atau justru terus menggunakan metrik sederhana untuk membenarkan keputusan bisnis yang kontroversial?



