Menteri Pertahanan Brunei Hadiri Dialog Shangri-La, Bahas Keamanan Infrastruktur Bawah Laut
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pertahanan Brunei, Halbi Mohd Yussof, menghadiri Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN di sela Dialog Shangri-La ke-23 di Singapura.
- Para menteri menegaskan komitmen terhadap stabilitas kawasan dan menyambut ADMM ke-20 serta ADMM-Plus ke-13 tahun ini.
- Singapura meluncurkan GUIDE, inisiatif multilateral untuk keamanan infrastruktur bawah laut kritis yang melibatkan Eropa dan Asia Tenggara.

Menteri Pertahanan Brunei Darussalam, Mayor Jenderal (Purn) Halbi Mohd Yussof, menghadiri rangkaian Dialog Shangri-La ke-23 yang digelar di Singapura, dengan agenda utama memperkuat kerja sama pertahanan regional dan meluncurkan inisiatif baru pengamanan infrastruktur bawah laut.
Dalam pertemuan tersebut, Halbi bergabung dengan para menteri pertahanan negara-negara ASEAN dalam sarapan kerja yang dipandu oleh Menteri Pertahanan Singapura Chan Chun Sing dan Menteri Pertahanan Filipina Gilberto C. Teodoro Jr., yang saat ini menjabat sebagai Ketua Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN (ADMM) 2026. Forum ini menjadi ajang konsolidasi sikap bersama ASEAN dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan, dengan semangat sentralitas ASEAN yang terus digaungkan.
Para menteri juga menyambut baik penyelenggaraan ADMM ke-20 dan ADMM-Plus ke-13 yang dijadwalkan berlangsung tahun ini. Pertemuan ADMM-Plus, yang melibatkan mitra dialog seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang, dinilai sebagai platform penting untuk membahas tantangan keamanan bersama, termasuk isu keamanan maritim dan terorisme.
Di luar agenda utama, perhatian khusus tertuju pada peluncuran Guiding Principles for Underwater Infrastructure Defence Exchange (GUIDE) oleh Menteri Chan Chun Sing. Inisiatif ini merupakan gagasan Singapura yang bertujuan membangun norma kerja sama pertahanan di bidang keamanan infrastruktur bawah laut kritis (Critical Underwater Infrastructure/CUI). GUIDE bersifat non-mengikat dan melibatkan negara-negara Eropa dan Asia Tenggara yang memiliki kepentingan serupa dalam melindungi kabel laut, pipa, dan instalasi bawah laut lainnya dari ancaman sabotase atau spionase.
Langkah ini dinilai strategis mengingat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik, terutama terkait klaim maritim di Laut Tiongkok Selatan. Infrastruktur bawah laut menjadi titik rawan karena sebagian besar lalu lintas data global dan energi melewati jalur bawah laut. Bagi Indonesia, inisiatif GUIDE dapat menjadi referensi dalam memperkuat keamanan infrastruktur maritim nasional, mengingat posisi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan jalur pelayaran dan kabel bawah laut yang padat.
Pada kesempatan yang sama, Halbi menggelar pertemuan bilateral dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Australia Richard Marles, serta dua pejabat tinggi Singapura: Menteri Pertahanan Chan Chun Sing dan Menteri Koordinator Keamanan Nasional K. Shanmugam. Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama pertahanan bilateral dan pertukaran informasi intelijen. Komisaris Tinggi Brunei untuk Singapura, Noor Qamar Sulaiman, turut mendampingi dalam pertemuan bilateral tersebut.
Dialog Shangri-La yang berlangsung sejak 2002 telah menjadi forum keamanan paling bergengsi di Asia, mempertemukan menteri pertahanan, pejabat militer, dan akademisi dari puluhan negara. Tahun ini, isu keamanan siber dan perlindungan infrastruktur kritis menjadi sorotan utama, seiring dengan meningkatnya ancaman hibrida di kawasan. Pertanyaannya, apakah inisiatif seperti GUIDE mampu menjembatani perbedaan kepentingan antara negara besar dan kecil, atau justru menjadi alat baru dalam persaingan pengaruh di Asia Tenggara?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7598036/original/037626400_1780381585-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7593944/original/008974500_1780376856-WhatsApp_Image_2026-06-02_at_11.40.19.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5548923/original/064624100_1775556600-Andrie-Yunus-Wakil-Koordinator-KontraS.jpg)
