Wamenhan Belanda Akui Eropa Terlalu Lama Bergantung pada AS: Saatnya Jadi Mitra Setara
Baca dalam 60 detik
- Wakil Perdana Menteri Belanda Dilan Yesilgoz-Zegerius menilai kritik AS terhadap belanja pertahanan Eropa sudah tepat, dan mengakui benua itu terlalu lama mengandalkan jaminan keamanan Amerika.
- Belanda berencana menaikkan anggaran pertahanan dari 2% PDB saat ini menjadi 3,5% pada 2035, serta menggenjot investasi di teknologi drone dan AI sambil belajar dari pengalaman perang Ukraina.
- Meski membangun kemandirian pertahanan, Yesilgoz-Zegerius menegaskan aliansi transatlantik tetap vital dan Eropa harus menjadi mitra yang setara, bukan sekadar penumpang.

Kritik Amerika Serikat terhadap rendahnya belanja pertahanan Eropa bukanlah tanpa dasar. Demikian pengakuan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Belanda, Dilan Yesilgoz-Zegerius, di sela-sela Shangri-La Dialogue di Singapura, Sabtu (30/5). Ia menegaskan bahwa negara-negara Eropa telah lama menikmati keamanan yang disubsidi oleh Washington, dan kini saatnya berbenah.
Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth melontarkan kritik pedas terhadap Eropa dan NATO. Hegseth memperingatkan agar sekutu tidak lagi menjadi "freeloader" dan menegaskan bahwa era Amerika mensubsidi pertahanan negara-negara kaya telah berakhir. Yesilgoz-Zegerius menyebut pesan Hegseth sebagai sesuatu yang "kuat" dan "perlu", seraya mengakui bahwa Eropa harus mengambil tanggung jawab lebih besar atas keamanannya sendiri.
“Kami sudah terlalu lama mengandalkan orang lain untuk keselamatan dan keamanan kami,” ujar Yesilgoz-Zegerius. “Sekarang saatnya berinvestasi di militer, ekonomi, dan industri pertahanan.” Menurutnya, jika Eropa ingin menjadi mitra setara AS, maka ketergantungan yang selama ini terjadi adalah kesalahan mereka sendiri karena tidak cukup membelanjakan anggaran pertahanan.
Perang Ukraina menjadi titik balik kesadaran Eropa. Yesilgoz-Zegerius mengakui bahwa banyak negara, termasuk Belanda, sempat percaya bahwa konflik besar sudah menjadi masa lalu. “Putin menunjukkan betapa naifnya kami,” katanya merujuk pada invasi Rusia ke Ukraina. Kini, pemerintah Belanda tidak hanya menaikkan anggaran pertahanan, tetapi juga memperluas militer dan berinvestasi besar-besaran pada teknologi baru seperti drone dan kecerdasan buatan (AI).
Belanda juga belajar langsung dari pengalaman tempur Ukraina. Yesilgoz-Zegerius memuji militer Ukraina sebagai salah satu yang terkuat di Eropa saat ini. “Mereka bertempur demi kebebasan sambil terus berinovasi. Kami akan terus mendukung Ukraina hingga tercapai perdamaian yang langgeng,” tegasnya. Namun, ia mengingatkan bahwa dalam pengembangan AI untuk perang, pengawasan manusia harus tetap menjadi pusat. “Kita baru berada di fase awal AI. Sangat penting selalu ada manusia yang terlibat dan kerangka moral yang jelas,” ujarnya.
Meskipun ada kekhawatiran tentang berkurangnya kehadiran militer AS di Eropa, Yesilgoz-Zegerius menekankan bahwa aliansi transatlantik tetap tak tergantikan. “AS akan membutuhkan Eropa dan mitra NATO lainnya, dan sebaliknya. Kita akan saling membutuhkan untuk waktu yang lama. Jadi, pastikan kita menjadi mitra setara,” katanya. Ia juga menolak anggapan bahwa NATO berusaha membentuk "NATO Asia" dengan memperdalam keterlibatan di Indo-Pasifik, termasuk dengan Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. Menurutnya, koalisi baru yang saling membantu selalu merupakan hal yang baik.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi tersendiri. Sebagai negara yang menganut politik bebas aktif dan non-blok, peningkatan belanja pertahanan Eropa serta penguatan aliansi di Indo-Pasifik dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan regional. Belanda sendiri mengakui bahwa keamanan Eropa dan Indo-Pasifik semakin terkait, terutama melalui jalur perdagangan. Dengan lebih dari separuh barang di Pelabuhan Rotterdam berasal dari kawasan ini, stabilitas Indo-Pasifik menjadi kepentingan langsung Belanda. Namun, Yesilgoz-Zegerius memastikan bahwa Belanda tidak datang untuk mencari konflik, melainkan kerja sama.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah negara-negara Eropa lain mengikuti langkah Belanda menaikkan anggaran pertahanan secara signifikan? Atau justru tekanan dari Washington yang akan menjadi pendorong utama? Yang jelas, era di mana Eropa bisa bersantai di bawah payung keamanan AS tampaknya benar-benar akan berakhir.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7593944/original/008974500_1780376856-WhatsApp_Image_2026-06-02_at_11.40.19.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5548923/original/064624100_1775556600-Andrie-Yunus-Wakil-Koordinator-KontraS.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7594046/original/008081400_1780376916-WhatsApp_Image_2026-06-02_at_11.37.09.jpeg)