Tuchel Tersudut: Wharton Bersinar di Final Conference League, Sorotan ke Keputusan Kontroversial
Baca dalam 60 detik
- Adam Wharton tampil gemilang saat Crystal Palace menjuarai Conference League, memicu perdebatan baru soal keputusan Tuchel tidak membawanya ke Piala Dunia.
- Tuchel lebih memilih Jordan Henderson yang berusia 35 tahun ketimbang Wharton yang berusia 22 tahun, sebuah pilihan yang dianggap mengejutkan banyak pengamat.
- Penampilan Wharton di panggung Eropa menegaskan potensinya sebagai gelandang serba bisa, dan bisa memicu minat klub-klub besar pada bursa transfer musim panas.

Keputusan pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel, untuk tidak menyertakan Adam Wharton dalam skuad Piala Dunia 2026 semakin menjadi sorotan setelah gelandang Crystal Palace itu tampil sebagai pemain terbaik saat timnya menjuarai Conference League. Dalam laga final melawan Rayo Vallecano, Wharton tidak hanya menjadi motor permainan, tetapi juga membuktikan bahwa ia layak bersaing di level tertinggi.
Wharton, yang baru berusia 22 tahun, menunjukkan kematangan luar biasa di lini tengah. Ia mencatatkan sentuhan terbanyak di antara semua pemain, dan tidak ada yang lebih sering mengirim bola ke sepertiga akhir lapangan. Kontribusinya tidak hanya dalam membangun serangan, tetapi juga dalam memutus permainan lawan dan memenangkan duel udara. Penampilan ini menjadi bukti bahwa ia adalah gelandang modern yang langka: mampu bertahan, mengatur tempo, dan menciptakan peluang.
Keputusan Tuchel memilih tujuh gelandang lain—Declan Rice, Elliot Anderson, Kobbie Mainoo, Jordan Henderson, Eberechi Eze, Jude Bellingham, dan Morgan Rogers—sementara meninggalkan Wharton di rumah, menuai kritik. Mantan pemain timnas Inggris, Glenn Hoddle, mengaku terkejut. "Saya suka cara dia melihat ke depan dan mengoper. Dia bisa memberikan bola-bola mematikan yang membongkar pertahanan. Saya tidak yakin banyak pemain yang bisa melakukan itu secara konsisten dari posisi dalam," ujar Hoddle kepada TNT Sports.
Yang paling mengundang tanda tanya adalah pilihan Tuchel membawa Jordan Henderson yang sudah berusia 35 tahun. Hoddle menilai, jika Henderson dibawa untuk peran kepemimpinan, sebaiknya ia dijadikan pemain-pelatih, bukan mengambil tempat yang seharusnya untuk Wharton. "Saya mengerti mengapa pelatih membawa Henderson, tetapi bagi saya, jika dia akan melakukan pekerjaan seperti itu, bawa dia sebagai pelatih. Ada tempat untuk Wharton," tegas Hoddle.
Kebangkitan Kobbie Mainoo di Manchester United juga menjadi faktor yang merugikan Wharton. Mainoo, yang sempat tersingkir di awal musim, kini kembali menjadi andalan Tuchel setelah tampil di laga uji coba Maret. Padahal, Wharton sebelumnya masuk dalam skuad untuk kualifikasi melawan Serbia dan Albania. Keduanya sama-sama berada di Euro 2024, tetapi Wharton tidak mendapatkan menit bermain, sementara Mainoo menjadi starter di semua pertandingan knockout termasuk final.
Bagi Crystal Palace, keberhasilan ini menjadi sejarah pertama mereka meraih trofi Eropa. Meski musim domestik buruk—finis di peringkat 15 Premier League dan tersingkir dari Piala FA oleh tim non-liga—gelar Conference League menjadi penebus. Wharton menjadi tokoh sentral di balik sukses tersebut, dan penampilannya di panggung Eropa jelas akan menarik perhatian klub-klub besar yang membutuhkan gelandang pada bursa transfer musim panas.
Keputusan Tuchel kini menjadi sorotan tajam. Dengan performa Wharton yang terus meningkat, publik Inggris bertanya-tanya: apakah pelatih asal Jerman itu telah membuat kesalahan besar dengan meninggalkan salah satu talenta terbaik negeri ini? Ataukah pilihan tersebut akan terbukti tepat ketika Piala Dunia bergulir?



