Arsenal Juara Premier League, Gagal di Final Liga Champions: Rasa Sakit yang Membakar Semangat
Baca dalam 60 detik
- Arsenal kalah adu penalti dari PSG di final Liga Champions, gagal meraih gelar Eropa perdana setelah 226 pertandingan tanpa trofi.
- Kekalahan ini terjadi sehari sebelum parade Premier League pertama dalam 22 tahun, menciptakan kontras emosional yang tajam.
- Manajer Arteta berencana belanja besar di bursa transfer untuk memperkuat tim, dengan target gelandang, sayap kiri, dan striker.

Rasa sakit karena kehilangan trofi Liga Champions di menit-menit akhir harus menjadi bahan bakar bagi Arsenal untuk bangkit musim depan. Itulah pesan yang disampaikan Mikel Arteta setelah timnya takluk dari Paris Saint-Germain melalui adu penalti di Budapest, Sabtu malam. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi The Gunners yang sebelumnya tak terkalahkan di kompetisi Eropa musim ini.
Arsenal sebenarnya telah menunjukkan performa impresif sepanjang musim, termasuk merebut gelar Premier League untuk pertama kalinya dalam 22 tahun. Namun, kegagalan di partai puncak Liga Champions meninggalkan luka yang dalam. Apalagi, hanya berselang 24 jam setelah kekalahan tersebut, mereka harus menjalani parade bus terbuka di London Utara untuk merayakan gelar domestik. Kontras antara euforia dan kekecewaan menjadi ujian mental tersendiri bagi skuad asuhan Arteta.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Arteta tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. "Sangat sulit menerima ketika Anda begitu konsisten sepanjang jalan menuju final, lalu kehilangan trofi melalui adu penalti," ujarnya. Ia juga menyoroti keputusan wasit yang tidak memberikan penalti kepada Arsenal di babak kedua saat Noni Madueke terlibat kontak dengan Nuno Mendes. "Saya telah menonton semua penalti dalam kompetisi ini selama 72 jam terakhir untuk memahami apa itu penalti dan apa yang bukan, dan itu bisa saja menjadi penalti," keluh pelatih asal Spanyol itu.
Meski kalah, Arteta menegaskan bahwa timnya akan segera bangkit. "Kami perlu melakukan yang lebih baik, meningkatkan performa, dan menemukan margin yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang kami inginkan," katanya. Ia juga mengisyaratkan akan ada perombakan besar di bursa transfer musim panas mendatang. Arsenal disebut-sebut membidik gelandang, sayap kiri, dan striker baru. Dengan pengeluaran besar di musim panas lalu, The Gunners tampaknya tak segan untuk kembali membuka kocek demi mencapai level berikutnya.
Analis sepak bola Nedum Onouha menilai Arsenal tetap menjadi ancaman di Eropa. "Mereka 100% tidak akan pergi kemana-mana. Musim ini dan musim lalu mereka menunjukkan bahwa mereka cukup baik untuk melaju jauh di Liga Champions. Meski kalah, mereka masih salah satu tim terbaik di Eropa," ujarnya kepada BBC Sport. Sementara itu, Pat Nevin menambahkan bahwa jika di awal musim ada yang menawarkan gelar Premier League dan kekalahan di final Liga Champions melalui adu penalti, itu tetap merupakan musim yang hebat.
Di sisi lain, PSG berhasil mempertahankan gelar Liga Champions dan bergabung dengan jajaran elit klub yang pernah menjuarai kompetisi ini secara beruntun. Kemenangan ini menegaskan dominasi mereka di Eropa, meski Arsenal memberikan perlawanan sengit. Namun, bagi Arsenal, kekalahan ini justru bisa menjadi momentum untuk evaluasi dan perbaikan.
Arteta mengakui bahwa timnya masih memiliki banyak pekerjaan rumah. "Kami akan mulai membuat beberapa keputusan yang sangat penting jika kami ingin mencapai level lain. Dan kami harus menunjukkan ambisi itu karena kami lebih dari mampu melakukannya, tetapi itu akan menuntut kami untuk menjadi sangat ambisius, sangat cepat, dan sangat cerdas," tegasnya. Dengan pemain muda potensial seperti Myles Lewis-Skelly, Ethan Nwaneri, dan Max Dowman yang siap menembus tim utama, masa depan Arsenal tampak cerah meski harus menelan pil pahit di Budapest.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kekalahan Arsenal ini menjadi pengingat bahwa sepak bola Eropa penuh dengan drama dan kejutan. Meski Arsenal gagal, perjalanan mereka musim ini tetap layak diapresiasi. Pertanyaan besarnya: akankah rasa sakit ini cukup untuk mendorong Arsenal meraih gelar Liga Champions musim depan, atau justru menjadi awal dari kemunduran? Hanya waktu yang bisa menjawab.



