Hujan Melbourne dan 'The Don': Kisah di Balik Lahirnya Kricket Satu Hari
Baca dalam 60 detik
- Sir Donald Bradman, legenda kricket, menjadi arsitek di balik format satu hari yang kini mendominasi kalender dan keuangan olahraga tersebut.
- Pertandingan ODI pertama pada 1971 lahir dari situasi darurat akibat hujan deras di Melbourne, yang memicu terobosan finansial dan popularitas.
- Format 50-over kini terancam oleh T20 yang lebih menguntungkan, menuntut inovasi agar tetap relevan di tengah jadwal yang padat.

Hujan deras yang mengguyur Melbourne pada Januari 1971 tidak hanya membatalkan pertandingan Test antara Australia dan Inggris, tetapi juga memicu lahirnya revolusi terbesar dalam sejarah kricket: format satu hari internasional (ODI). Di balik keputusan mendadak itu, terselip nama Sir Donald Bradman—sosok yang lebih dikenal karena rata-rata batting 99,94—yang ternyata menjadi dalang di balik perubahan yang mengubah wajah olahraga ini secara permanen.
Menurut kapten Australia kala itu, Bill Lawry, Bradman yang saat itu menjabat sebagai administrator melihat peluang finansial di tengah kekhawatiran kerugian besar akibat Test yang gagal. Dengan persetujuan kedua dewan kricket, pertandingan pengganti digelar pada hari terakhir yang seharusnya kosong. Sebanyak 46.000 penonton memadati stadion untuk menyaksikan Australia menang dalam 40 delapan-ball overs. Media menyebutnya sebagai "kesuksesan luar biasa", dan angka itu menjadi bukti bahwa format yang lebih pendek memiliki daya tarik komersial yang tak terduga.
Meski demikian, pertumbuhan ODI berjalan lambat karena sikap konservatif badan internasional. Pertandingan ODI berikutnya baru terjadi pada Agustus 1972, dan negara-negara lain mulai memainkannya setahun kemudian. Ironisnya, Piala Dunia edisi perdana justru digelar untuk wanita pada 1973—dua tahun sebelum turnamen pria pertama. Langkah ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu datang dari kalangan yang paling berkuasa.
Popularitas ODI melesat setelah Piala Dunia pria 1975, dan puncaknya terjadi saat Kerry Packer meluncurkan World Series Cricket pada 1977. Media baron yang kecewa karena tawaran hak siarnya ditolak oleh Dewan Kricket Australia itu menciptakan kompetisi tandingan dengan merekrut pemain-pemain terbaik dunia. Warna cerah, bola putih, pertandingan malam, dan helm pemukul—yang kini menjadi standar—lahir dari era tersebut. Clive Lloyd, kapten West Indies yang memenangi dua Piala Dunia, menyebut format terbatas sebagai inovasi terbesar karena meningkatkan standar fielding dan kesadaran taktis.
Perubahan fisik pemain pun tak terhindarkan. Pemukul harus lebih kuat untuk memukul lebih banyak boundary, lebih cepat dalam berlari, sementara fielder dituntut lebih atletis dan memiliki lemparan yang lebih kuat. Aturan fielding restriction pada 1992 yang hanya mengizinkan dua fielder di luar lingkaran 30 yard pada 15 over pertama memaksa kapten untuk merombak strategi. Akibatnya, skor yang semula 191 untuk kemenangan pertama Australia kini rutin menembus 300. Inovasi seperti bat yang lebih besar, latihan spesifik, dan boundary rope yang memperpendek jarak pukulan turut mendorong ledakan angka.
Bagi Indonesia, perkembangan format kricket pendek membuka peluang baru. Meski kricket belum sepopuler sepak bola, turnamen T20 yang lebih singkat dan menghibur bisa menjadi pintu masuk untuk menarik generasi muda. Regulasi yang lebih sederhana dan durasi pertandingan yang lebih pendek membuat olahraga ini lebih mudah diakses, terutama di daerah perkotaan yang padat. Beberapa sekolah dan klub di Jakarta dan Bali sudah mulai mengadopsi format T20 sebagai pengenalan awal.
Namun, ironisnya, format yang lahir dari kreativitas Bradman kini menghadapi ancaman dari anak kandungnya sendiri: T20. Analisis terhadap lebih dari 340 pertandingan ODI di Australia antara 1985 dan 2015 menunjukkan penurunan rata-rata penonton. Sementara itu, turnamen T20 seperti Indian Premier League (IPL) menghasilkan pendapatan miliaran dolar dan menggeser perhatian pemain serta sponsor. Pat Cummins, kapten Australia, mengaku "jatuh cinta lagi dengan ODI" setelah Piala Dunia 2023, tetapi sentimen itu belum tentu bertahan di tengah derasnya arus uang T20.
Masa depan ODI bergantung pada kemampuannya beradaptasi. Apakah format 50-over akan terus dimodifikasi—misalnya dengan pembagian innings atau aturan powerplay baru—atau justru tergerus oleh T20 dan The Hundred? Pertanyaan ini menjadi pekerjaan rumah bagi dewan kricket dunia, termasuk Indonesia yang mulai merintis jalan di olahraga ini.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1205209/original/090598600_1460793334-_20151024NH_Jajang_Sukmara_02.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4370765/original/005760600_1679670315-20230324BL_BRI_Liga_1_2022-2023_Persib_Bandung_vs_Bhayangkara_FC_10.jpg)
