KRL Duri-Tangerang Mendadak Mati Total, Penumpang Panik Dengar Ledakan Bertubi-tubi
Baca dalam 60 detik
- Kereta Commuter Line jurusan Duri-Tangerang berhenti mendadak di Rawa Buaya setelah tiga kali suara ledakan dari dalam gerbong.
- Penumpang histeris saat lampu padam dan pintu terbuka; sebagian turun ke rel, sebagian bertahan menunggu petugas.
- Insiden ini kembali menguji keandalan sistem kelistrikan KRL di jam sibuk sore hari.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5446117/original/028221500_1765873306-1000023609.jpg)
Suara ledakan bertubi-tubi mengguncang gerbong KRL Commuter Line jurusan Duri-Tangerang, Selasa sore (26/5/2026), membuat perjalanan terhenti total dan penumpang histeris di perlintasan sebidang Rawa Buaya, Jakarta Barat. Insiden yang terjadi sekitar pukul 17.00 WIB itu memicu kepanikan massal, terutama setelah lampu di seluruh gerbong padam seketika.
Seorang penumpang bernama Tasya (25) menuturkan, dirinya mendengar tiga kali suara ledakan keras dari dalam kereta. "Ledak gitu, (kereta) mati, (kereta) hidup lagi, ledak lagi, terus mati, hidup, ledak lagi, terus mati lagi. Enggak lama, kereta berhenti sampai sekarang," ujarnya di lokasi kejadian. Ledakan tersebut, menurut Tasya, langsung diikuti dengan matinya sistem kelistrikan dan lampu gerbong, membuat suasana mencekam.
Kepanikan tak terhindarkan. Tasya dan sejumlah penumpang lainnya memilih turun dari kereta melalui pintu yang terbuka secara otomatis setelah listrik padam. "Saya berangkat dari Kampung Bandan mau ke Tangerang. Tadi turun di sini, pintunya terbuka akhirnya," katanya. Namun, tidak semua penumpang mengambil langkah serupa. Butar (45), yang berada di gerbong tiga, mengaku tetap bertahan di dalam kereta sembari menunggu penanganan petugas. "Saya tadi di gerbong tiga, terus dengar ada ledakan dari gerbong tiga. Tiga kali bunyi ledakan, sekitar jam 17.00 tadi," ujarnya. Butar memilih pindah ke gerbong paling depan demi keamanan.
Belum ada pernyataan resmi dari PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) terkait penyebab ledakan dan gangguan kelistrikan tersebut. Namun, dugaan sementara mengarah pada korsleting atau gangguan pada sistem traksi kereta. Insiden ini menambah daftar panjang gangguan perjalanan KRL di lintas Duri-Tangerang, jalur yang melayani ribuan penumpang komuter setiap harinya. Bagi pengguna setia, kejadian seperti ini bukan hanya soal keterlambatan, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kepercayaan terhadap moda transportasi massal.
KRL Commuter Line telah menjadi tulang punggung mobilitas warga Jabodetabek, dengan volume penumpang mencapai lebih dari 1 juta orang per hari. Gangguan mendadak seperti di Rawa Buaya berpotensi menimbulkan efek domino, mulai dari penumpukan penumpang di stasiun hingga kekacauan jadwal perjalanan pulang. Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah sistem perawatan dan pengamanan kelistrikan KRL sudah memadai untuk mencegah insiden serupa di masa depan? Penumpang seperti Tasya dan Butar hanya bisa berharap agar perjalanan mereka selanjutnya tidak lagi diwarnai ledakan dan kepanikan.



