Asisten Pribadi Matthew Perry Divonis 3,5 Tahun Penjara: Akhir dari Rantai Kematian Bintang 'Friends'
Baca dalam 60 detik
- Kenneth Iwamasa, asisten pribadi Matthew Perry, dijatuhi hukuman 3 tahun 5 bulan penjara karena membeli dan menyuntikkan ketamin yang menyebabkan kematian aktor tersebut.
- Hakim menolak argumen pengacara yang menyebut Iwamasa hanya menjalankan perintah majikan, menegaskan bahwa ia bisa menolak dan tindakannya tergolong ceroboh.
- Vonis ini menutup rangkaian tuntutan terhadap lima orang yang terlibat dalam peredaran ketamin yang merenggut nyawa Perry pada Oktober 2023.

Kenneth Iwamasa, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Matthew Perry, harus mendekam di balik jeruji besi selama tiga tahun lima bulan setelah terbukti menjadi eksekutor lapangan yang menyuntikkan ketamin dosis mematikan ke tubuh bintang serial Friends itu. Vonis yang dijatuhkan di Pengadilan Distrik Los Angeles pada Rabu (27/5/2026) ini sekaligus mengakhiri babak hukum atas kematian Perry yang mengguncang industri hiburan dunia pada Oktober 2023.
Iwamasa, 61 tahun, mengaku bersalah atas satu tuduhan konspirasi mendistribusikan ketamin yang mengakibatkan kematian. Dalam tiga hari terakhir sebelum Perry ditemukan tewas di bak air panas kediamannya di Los Angeles, Iwamasa menyuntikkan obat bius tersebut enam hingga delapan kali sehari tanpa latihan medis. Ia bahkan menyuntikkan dosis terakhir pada pagi hari sebelum Perry meninggal. Hakim Sherilyn Peace Garnett, dalam pertimbangannya, menegaskan bahwa Iwamasa sadar betul dengan riwayat kecanduan Perry namun tetap bertindak ceroboh.
Pengacara Iwamasa, Alan Eisner, sempat memohon keringanan hukuman enam bulan penjara dan enam bulan tahanan rumah dengan dalih kliennya hanya menjalankan perintah majikan. Eisner menyebut Iwamasa memuja Perry dan hanya berusaha menyenangkannya. Namun, Hakim Garnett dengan tegas membantah argumen tersebut. "Dia tidak mau, bukan tidak bisa. Dia bisa saja menolak," ujar hakim, menolak permohonan tersebut. Vonis ini sesuai dengan tuntutan jaksa, meskipun hakim mengakui tidak ada bukti kuat bahwa Iwamasa berniat jahat.
Dalam pernyataan dampak korban yang dibacakan di pengadilan, ibu Perry, Suzanne Morrison, mengungkapkan kekecewaan mendalam. Ia mengaku mempercayakan Iwamasa sebagai pendamping dan pelindung putranya dalam melawan kecanduan, namun justru dikhianati. "Alih-alih melindungi Matthew, dia membantu dan bersekongkol dalam penggunaan obat-obatan terlarang, mengatur pemasok, dan menyuntikkan obat ke tubuh Matthew meskipun dia sama sekali tidak berkualifikasi," tulis Morrison. Ia juga menyoroti perilaku Iwamasa setelah kematian Perry yang mencoba mendekatinya dengan mengirimkan lagu dan peta makam, seolah-olah dialah yang berusaha menyelamatkan Perry. "Kami mempercayai pria tanpa hati nurani, dan anak saya yang membayar harganya," pungkas Morrison.
Iwamasa menjadi terdakwa terakhir dari lima orang yang terlibat dalam jaringan peredaran ketamin yang menewaskan Perry. Sebelumnya, pengedar yang dijuluki "Ratu Ketamin", Jasveen Sangha, dijatuhi hukuman 15 tahun penjara pada April lalu. Mantan dokter Salvador Plascencia dihukum 2,5 tahun penjara, sementara perantara Erik Fleming divonis 2 tahun penjara. Dokter lain, Mark Chavez, mendapat hukuman 8 bulan tahanan rumah dan 3 tahun masa percobaan. Rantai pasokan ini bermula dari Plascencia yang mengajari Iwamasa cara menyuntik, hingga Sangha sebagai pemasok utama.
Kasus ini menyoroti bahaya penyalahgunaan ketamin, obat bius yang kerap digunakan dalam terapi depresi namun memiliki risiko fatal jika digunakan tanpa pengawasan medis. Di Indonesia, ketamin termasuk dalam golongan obat keras yang peredarannya diawasi ketat, namun penyalahgunaan tetap terjadi di kalangan tertentu. Vonis terhadap Iwamasa dan para terdakwa lain diharapkan menjadi efek jera, sekaligus pengingat bahwa tidak ada loyalitas yang bisa membenarkan tindakan kriminal yang merenggut nyawa. Pertanyaan yang tersisa: apakah hukuman ini cukup untuk mencegah kasus serupa terulang, terutama di tengah meningkatnya penggunaan ketamin sebagai obat rekreasi?



