Alexia Putellas ke London City: Transfer Terbesar dalam Sejarah WSL?
Baca dalam 60 detik
- Megabintang sepak bola wanita, Alexia Putellas, dikabarkan akan bergabung dengan London City Lionesses setelah 14 tahun membela Barcelona.
- Jika terealisasi, transfer ini akan menjadi yang terbesar di Women's Super League dan menandai dominasi finansial liga Inggris.
- Kedatangan Putellas berpotensi memicu eksodus pemain top Eropa ke WSL, mengubah peta kekuatan sepak bola wanita global.

Alexia Putellas, dua kali peraih Ballon d'Or, dikabarkan akan meninggalkan Barcelona setelah 14 musim dan 38 trofi. Klub promosi London City Lionesses disebut-sebut sebagai tujuan paling mungkin, sebuah langkah yang jika terwujud akan menjadi transfer paling monumental dalam sejarah Women's Super League (WSL).
Kepergian Putellas dari Camp Nou bukan sekadar perpindahan pemain. Ia adalah ikon yang perpisahannya dirayakan lebih megah dari Lionel Messi—stadion dibuka untuknya, sementara Messi hanya mendapat ruangan. Ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh pemain berusia 32 tahun itu, baik di dalam maupun luar lapangan.
London City, yang baru promosi ke WSL musim lalu dan finis di papan tengah, tengah membangun proyek ambisius di bawah pemilik Michelle Kang. CEO Martin Semmens sebelumnya menyatakan target mereka adalah menjadi "pengganggu" dan sukses bukanlah proyek 10 tahun. Merekrut Putellas akan menjadi pernyataan paling keras: klub peringkat enam mampu mendatangkan pemain terbaik dunia.
Namun, ada kesenjangan besar yang harus dijembatani. London City kalah dalam lima dari enam pertandingan melawan tiga besar (Chelsea, Arsenal, Manchester City) dengan agregat 15-4. Rata-rata penonton mereka juga yang terendah di antara klub papan atas. Kehadiran Putellas mungkin tidak langsung mengubah hasil di lapangan, tetapi akan meningkatkan profil klub secara dramatis.
Dampak potensial transfer ini melampaui London City. WSL belum pernah memiliki pemenang Ballon d'Or di dalamnya. Jika klub peringkat keenam bisa menarik Putellas, itu menunjukkan kekuatan finansial dan reputasi liga yang semakin dominan. Jurnalis Spanyol Irati Vidal menilai, "Jelas mereka membayar lebih di Inggris—Spanyol tidak bisa bersaing. Ada ketakutan kehilangan semua talenta ke Inggris."
Liga Inggris memang sedang dalam tren naik. Tiga tim mencapai perempat final Liga Champions musim ini, dan juara WSL Manchester City akan kembali ke kompetisi Eropa musim depan dengan mempertahankan pencetak gol terbanyak Khadija Shaw. Pemain seperti Georgia Stanway (Bayern Munich) dan Ona Batlle (rekan Putellas di Barcelona) juga dikabarkan bisa pindah ke Inggris musim panas ini.
Ahli keuangan sepak bola Kieran Maguire membandingkan WSL dengan Premier League: "Ini secara efektif menjadi liga super sendiri. Ada minat yang cukup dari penyiar, penggemar, dan komersial. Klub WSL bisa mengalahkan klub Eropa lainnya dalam hal biaya transfer."
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran tentang bagaimana investasi dan manajemen profesional dapat mengangkat kualitas liga. Sepak bola wanita Indonesia masih dalam tahap awal, tetapi dominasi WSL menunjukkan bahwa dengan dukungan finansial dan infrastruktur yang tepat, sebuah liga bisa menarik talenta global. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap belajar dari model ini?
Jika Putellas benar-benar memilih London City, itu akan menjadi sinyal bahwa era baru sepak bola wanita telah tiba—di mana uang dan ambisi klub yang lebih kecil bisa mengalahkan tradisi dan sejarah. Akankah WSL menjadi tujuan utama semua pemain top dunia? Ataukah Barcelona dan klub Eropa lainnya akan bangkit kembali? Musim depan akan memberikan jawaban.



