Kearifan Semende: Pohon Semantung Jadi Kunci Harmoni Manusia dan Siamang di Bukit Lumut Balai
Baca dalam 60 detik
- Masyarakat Semende di Sumatera Selatan mempertahankan pohon semantung sebagai sumber pakan alami siamang, mencegah konflik dengan kebun kopi dan sawah.
- Pohon semantung (Ficus padana) berperan sebagai koridor ekologis dan penstabil tanah, sekaligus pakan bagi gajah sumatera dan berbagai satwa lain.
- Pelestarian pohon ini menjadi model konservasi berbasis kearifan lokal yang relevan untuk wilayah penyangga taman nasional di Indonesia.

Di lereng Bukit Lumut Balai, Sumatera Selatan, masyarakat Suku Semende telah lama hidup berdampingan dengan siamang (Symphalangus syndactylus) tanpa konflik berarti. Kuncinya bukan sekadar pantangan leluhur, melainkan praktik cerdas: mempertahankan pohon semantung di setiap batas kebun. Pohon ini, yang buahnya menjadi santapan favorit siamang, justru menjauhkan primata itu dari area pertanian warga.
Konsep "jalur agung" menjadi fondasi hubungan ini. Masyarakat Semende memahami bahwa ada koridor hutan alami—biasanya mengikuti aliran sungai—yang menjadi lintasan satwa seperti harimau sumatera, rusa, dan siamang. Di zona ini, mereka pantang membuka lahan atau mendirikan bangunan. Mang Zakaria, petani di Desa Muara Tenang, menuturkan bahwa serangan harimau kerap terjadi ketika pendatang melanggar aturan tak tertulis tersebut. Dengan menjaga jalur agung, konflik satwa liar dapat ditekan secara signifikan.
Pohon semantung (Ficus padana) menjadi elemen kunci dalam strategi ini. Di Datas Pagi, Desa Tanjung Tiga, setiap petak kebun kopi dan sawah dipagari oleh pohon ara ini. Saptika, seorang petani perempuan, mengungkapkan bahwa siamang tidak pernah memasuki kebun karena mereka sudah kenyang dengan buah semantung yang melimpah. Saat matahari terbit, kelompok siamang yang terdiri dari lima hingga enam individu kerap terlihat memakan buah tersebut sambil mengamati aktivitas petani dari kejauhan.
Keberadaan pohon semantung tidak hanya menguntungkan siamang. Penelitian Cut Malahayati dan tim (2025) di jurnal Kenanga menegaskan bahwa famili Moraceae, termasuk semantung, merupakan jenis pakan yang paling disukai siamang di Stasiun Penelitian Soraya, Leuser. Sementara itu, studi Iqbal Abi Yaghsyah dkk. (2021) mengonfirmasi bahwa owa jawa (Hylobates moloch) di Curug Walet, Jawa Barat, juga mengandalkan buah semantung sebagai pakan utama. Syamsuardi, Ketua Perkumpulan Jejaring Hutan dan Satwa (PJHS), menambahkan bahwa pohon ini menjadi rebutan gajah sumatera—dimakan dari daun hingga akar—dan bahkan dapat memulihkan nafsu makan gajah yang sakit dalam waktu sekitar satu minggu.
Bagi Indonesia, praktik konservasi berbasis kearifan lokal seperti ini menawarkan pelajaran berharga. Di tengah tekanan deforestasi dan fragmentasi habitat, pendekatan Semende membuktikan bahwa manusia dan satwa liar dapat berbagi ruang tanpa saling merugikan. Mansir, petani di Datas Pagi, memperkirakan ada puluhan siamang yang masih bertahan di sekitar Bukit Lumut Balai, terdiri dari beberapa kelompok keluarga. Pesan leluhur yang melarang perburuan siamang tetap dipegang teguh: "Mereka tidak mengganggu kami, kenapa harus ganggu mereka?"
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga agar pengetahuan ekologis tradisional ini tidak luntur di tengah modernisasi. Apakah generasi muda Semende akan tetap mempertahankan pohon semantung di kebun mereka, atau tergerus oleh tekanan ekonomi yang mendorong konversi lahan? Jawabannya akan menentukan nasib siamang dan keanekaragaman hayati di Bukit Lumut Balai.



