West Ham Terdegradasi, David Sullivan Incar Kembalinya Slaven Bilic
Baca dalam 60 detik
- West Ham resmi terdegradasi ke Championship setelah 14 tahun di Premier League, memicu perombakan besar di klub.
- Pemilik David Sullivan dikabarkan lebih condong mengganti Nuno dengan Slaven Bilic, sementara pemegang saham Daniel Křetínský ingin mempertahankan Nuno.
- Keputusan pelatih akan krusial bagi restrukturisasi klub di tengah tekanan finansial dan potensi kepergian pemain kunci.

West Ham United harus menerima kenyataan pahit setelah 14 tahun berlaga di Premier League: degradasi ke Championship. Meski menang 3-0 atas Leeds United di laga pamungkas, hasil pertandingan lain memastikan nasib The Hammers. Kini, sorotan tertuju pada langkah pemilik klub, David Sullivan, yang dihadapkan pada keputusan besar terkait masa depan pelatih Nuno Espírito Santo.
Nuno yang baru ditunjuk pada September lalu menggantikan Graham Potter, hanya mampu memenangkan 12 dari 37 pertandingan. Meski sempat menunjukkan kebangkitan di awal tahun, konsistensi menjadi masalah utama. Kegagalan memanfaatkan peluang untuk melewati Tottenham Hotspur di pekan-pekan akhir menjadi pukulan telak. Kini, masa depannya di London Stadium berada di ujung tanduk.
Menurut laporan The Guardian, terjadi perpecahan di internal klub. Sullivan disebut kurang yakin untuk mempertahankan Nuno, sementara pemegang saham utama Daniel Křetínský lebih mendukung pelatih asal Portugal itu untuk membangun kembali tim di Championship. Perbedaan pandangan ini memicu spekulasi bahwa perubahan di kursi pelatih bisa segera terjadi.
TalkSPORT melaporkan bahwa Sullivan secara pribadi menginginkan kembalinya Slaven Bilic, pelatih yang pernah membawa West Ham finis ketujuh di Premier League pada musim 2015/16. Bilic, yang masih populer di kalangan suporter, dianggap sebagai figur yang tepat untuk membangkitkan semangat tim. Namun, sejak meninggalkan klub pada 2017, karier Bilic tidak semulus sebelumnya; ia sempat menangani West Brom, Beijing Guoan, Watford, dan Al-Fateh di Arab Saudi, tanpa pernah kembali ke Premier League setelah 2022.
Selain Bilic, nama Scott Parker juga mencuat sebagai kandidat kuat. Parker memiliki rekam jejak promosi bersama Fulham, Bournemouth, dan Burnley. Gary O'Neil juga disebut-sebut masuk dalam daftar pertimbangan. Namun, tantangan West Ham tidak hanya di bangku pelatih. Tekanan finansial pasca-degradasi dan ketidakpastian masa depan sejumlah pemain bintang membuat siapa pun yang duduk di kursi panas harus siap menghadapi situasi sulit.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah West Ham menjadi pengingat betapa kerasnya persaingan di Premier League. Klub yang sempat tampil di Eropa harus rela turun kasta karena inkonsistensi. Fenomena ini juga relevan dengan klub-klub besar di Liga Indonesia yang kerap mengalami nasib serupa ketika gagal mempertahankan performa.
Keputusan Sullivan dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi penentu. Apakah ia akan kembali pada sosok lama yang pernah berjaya, atau justru memilih pelatih baru dengan filosofi berbeda? Yang jelas, West Ham membutuhkan sosok yang tidak hanya piawai secara taktik, tetapi juga mampu mengelola tekanan dan membangun kembali fondasi klub yang sempat goyah.



