Drama Perburuan Pelatih Italia Berakhir: Mancini Kembali, Guardiola Hanya Mimpi
Baca dalam 60 detik
- Roberto Mancini kembali menukangi Timnas Italia setelah pencarian pelatih yang kacau dan penuh intrik.
- FIGC sempat mengincar Pep Guardiola, Carlo Ancelotti, dan Andrea Pirlo, namun ketiganya batal karena berbagai kendala.
- Mundurnya Paolo Maldini dan Leonardo dari posisi direktur teknis menjadi titik balik yang membuka jalan bagi Mancini.

Roberto Mancini resmi kembali ke kursi pelatih Timnas Italia, mengakhiri drama perburuan yang berlangsung alot dan penuh kejutan. Pelatih berusia 61 tahun itu diumumkan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) pada Selasa lalu, setelah serangkaian negosiasi dengan nama-nama besar gagal membuahkan hasil.
Mancini bukan wajah baru bagi skuad Azzurri. Ia membawa Italia menjuarai Euro 2020, tetapi catatan kelam gagal lolos ke Piala Dunia 2022 masih membayangi. Kembalinya Mancini disambut beragam reaksi, mengingat kontradiksi antara prestasi dan kegagalan yang ia torehkan.
Pencarian pelatih yang berlangsung berminggu-minggu itu dimulai dengan ambisi tinggi FIGC. Mantan direktur teknis Paolo Maldini mengusung rencana merekrut juru taktik kelas dunia, termasuk Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti. Namun, kedua pelatih tersebut tidak tersedia karena komitmen kontrak mereka di klub masing-masing.
Buntu di dua opsi utama, Maldini beralih ke Andrea Pirlo โ legenda sepak bola Italia yang kini menjadi pelatih. Akan tetapi, rencana tersebut kandas di meja Presiden FIGC Giovanni Malagรฒ. Pirlo terganjal perannya sebagai duta merek perusahaan taruhan asal Rusia, yang dinilai tidak sesuai dengan etika federasi. Keputusan ini memicu ketegangan internal hingga akhirnya Maldini dan penasihatnya, Leonardo, memilih mundur.
Editor Football Italia, Lorenzo Bettoni, dalam wawancaranya dengan CNN World Sport menyebut bahwa kekacauan ini berakar pada kurangnya koordinasi antara direktur teknis dan presiden federasi. "Maldini ingin membawa perubahan, tetapi struktur keputusan yang terpusat di tangan Presiden membuat proses menjadi rumit. Ini pelajaran penting bagi federasi mana pun," ujarnya.
Bagi sepak bola Indonesia, saga ini menjadi refleksi tentang pentingnya keselarasan visi antara direktur teknis dan pengurus federasi. PSSI, yang kerap berganti pelatih dan terlibat konflik internal, dapat menimba pengalaman dari Italia. Konsistensi dan kejelasan hierarki keputusan menjadi kunci untuk menghindari kekacauan serupa, terutama ketika target pelatih berskala internasional mulai diincar.
Kini, tantangan Mancini ke depan tidak ringan. Ia harus membangun kembali kepercayaan publik dan memastikan Italia lolos ke Piala Dunia 2026. Pertanyaan besarnya, apakah kembalinya pelatih lama bisa menjadi solusi jangka panjang, atau hanya peredam sementara gejolak di tubuh federasi?



