Kevin Hart Buka Suara soal Kontroversi Lelucon George Floyd di Netflix Roast
Baca dalam 60 detik
- Kevin Hart menegaskan dirinya bukan penulis lelucon kontroversial Tony Hinchcliffe tentang George Floyd di acara Netflix Roast.
- Hart mengaku tidak terkejut dengan materi sensitif tersebut, merujuk pada tradisi roast yang kerap mengeksplorasi humor rasis.
- Kritik keras datang dari keluarga Floyd dan publik, sementara komedian lain menyoroti ketimpangan standar humor antara ras kulit putih dan hitam.

Komedian Kevin Hart akhirnya angkat bicara mengenai gelombang kritik yang menyasar lelucon Tony Hinchcliffe tentang George Floyd dalam acara Netflix Roast of Kevin Hart yang tayang baru-baru ini. Dalam pernyataannya, Hart menegaskan bahwa ia bukanlah pihak yang melontarkan candaan tersebut, dan meminta publik untuk tidak menyamakan dirinya dengan materi yang disampaikan komedian lain.
Hinchcliffe, yang dikenal dengan gaya komedi tanpa filter, melontarkan kalimat kontroversial saat berada di atas panggung: “Komunitas kulit hitam sangat bangga padamu. Saat ini, George Floyd sedang melihat ke atas ke arah kita semua, tertawa terbahak-bahak sampai tidak bisa bernapas.” Lelucon itu langsung memicu kemarahan, terutama dari Terrence Floyd, adik George Floyd, yang menilai Hart seharusnya turun tangan menghentikan lelucon tersebut.
Dalam wawancaranya di podcast The Breakfast Club, Hart mengakui bahwa lelucon itu tidak pantas bagi budaya dan penonton kulit hitam. Namun, ia menekankan bahwa penonton yang memahami format roast—acara yang memang dirancang untuk saling menghujat secara ekstrem—seharusnya tidak kaget. “Saya tidak terkejut. Itulah yang mereka lakukan. Lihat saja Roast Tom Brady. Itu terjadi setiap tahun. Bukan hal baru,” ujar Hart.
Hart juga menyebut bahwa Hinchcliffe tetap menjadi salah satu pembawa materi terbaik malam itu, bersama Pete Davidson. Ia mengaku tidak akan pernah membuat lelucon serupa, tetapi ia memahami konteks di mana lelucon itu dilontarkan. “Saya tahu gaya komedi mereka. Saya tidak melihat mereka dengan tatapan aneh,” tambahnya.
Kritik juga datang dari sesama komedian. Michael Che, yang tidak hadir dalam acara tersebut, menulis di Instagram bahwa komedian kulit putih cenderung membahas topik berat seperti perbudakan, matematika, remaja tewas, kejahatan seks, dan hinaan, sementara komedian kulit hitam lebih sering mengolok-olok penampilan seperti sepatu. Che juga menyoroti dominasi penulis kulit putih di balik acara yang merayakan karier komedian kulit hitam tersukses dalam satu dekade terakhir.
Hart sendiri meminta publik untuk “mengeluarkan” dirinya dari perdebatan. “Apa pun dialognya, jawaban saya sederhana: Keluarkan saya dari ini. Saya tidak mengatakannya. Jika Anda kecewa acara itu tetap berjalan, itu urusan lain. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ini produksi. Berhentilah bicara seolah saya yang mengatakannya,” tegasnya.
Kontroversi ini kembali membuka diskusi tentang batas humor dalam industri hiburan, terutama ketika menyangkut isu rasial dan tragedi kemanusiaan. Di Indonesia, fenomena serupa kerap muncul dalam acara komedi yang menyinggung SARA, meskipun regulasi penyiaran lebih ketat. Pertanyaannya, akankah Netflix dan platform global lainnya mulai menerapkan sensor lebih ketat, atau justru mempertahankan tradisi roast yang tanpa batas?



