Paramount Borong Hak Film The Midnight Library di Cannes, Florence Pugh Jadi Bintang Utama
Baca dalam 60 detik
- Paramount mengakuisisi hak distribusi global film adaptasi novel laris Matt Haig dengan nilai lebih dari 30 juta dolar AS.
- Florence Pugh akan memerankan Nora Seed, seorang perempuan yang menjelajahi kehidupan alternatif di perpustakaan antara hidup dan mati.
- Produksi dijadwalkan mulai awal 2027, dengan distribusi internasional ditangani Studiocanal di sejumlah negara.

Paramount Pictures memenangkan perburuan hak distribusi global film The Midnight Library dalam salah satu kesepakatan terbesar di Cannes Film Festival tahun ini. Studio raksasa Hollywood itu dilaporkan menggelontorkan dana lebih dari 30 juta dolar AS untuk mengamankan hak atas adaptasi novel laris karya Matt Haig yang dibintangi Florence Pugh.
Kesepakatan ini menandai langkah agresif Paramount di tengah persaingan ketat antarstudio memperebutkan properti intelektual populer. Film bergenre fantasi drama ini akan disutradarai Garth Davis, yang sebelumnya sukses dengan Lion (2016). Naskah ditulis oleh Laura Wade dan Nick Payne, sementara Haig sendiri akan duduk sebagai produser eksekutif.
Dalam film yang digambarkan sebagai "surat cinta untuk kehidupan", Pugh akan memerankan Nora Seed, seorang perempuan yang terjebak di perpustakaan misterius antara alam hidup dan mati. Di sana, ia diberi kesempatan untuk merasakan berbagai versi kehidupan yang mungkin ia jalani—sebuah premis yang menawarkan eksplorasi filosofis tentang penyesalan, pilihan, dan penerimaan diri.
Pembagian wilayah distribusi pun telah diatur: Studiocanal akan menangani perilisan di Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Benelux, Australia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan. Sementara Paramount menguasai pasar global lainnya, termasuk Amerika Utara dan Asia. Bagi penonton Indonesia, film ini berpotensi tayang di bioskop tanah air melalui jaringan distribusi Paramount yang sudah mapan.
Garth Davis mengungkapkan antusiasmenya bekerja sama kembali dengan Pugh setelah sebelumnya mereka berkolaborasi dalam film Lion. "Kehangatan dan bakatnya sungguh magis. Bersama Matt Haig, kami akan menciptakan sesuatu yang istimewa—sebuah perayaan kehidupan dalam segala kemungkinan dan kompleksitasnya," ujar Davis dalam pernyataan resmi.
Matt Haig, penulis novel yang telah menjadi fenomena global, menyambut gembira adaptasi ini. "Saya sangat senang cerita Nora berada di tangan yang tepat. Tim ini akan menghidupkan kembali berbagai kemungkinan yang ada dalam novel saya dengan cara yang vivid," katanya.
CEO Studiocanal, Anna Marsh, menambahkan bahwa naskah film ini menawarkan "emosi yang tak tertandingi" dengan stakes tinggi karena waktu yang terus berjalan. "Saya tidak sabar menanti Florence Pugh membawa kita dalam perjalanan Nora menemukan cinta yang mendalam pada kehidupan," ujarnya.
Bagi industri perfilman Indonesia, kesepakatan ini menjadi pengingat akan besarnya potensi pasar adaptasi novel. Dengan basis pembaca yang kuat, The Midnight Library berpotensi menjadi fenomena serupa Before the Coffee Gets Cold atau The Travelling Cat Chronicles yang sukses diadaptasi ke layar lebar. Pertanyaannya, akankah distributor lokal mampu memanfaatkan momentum ini untuk menjangkau penonton yang lebih luas?



