Wabah Campak di Bangladesh Tewaskan Ratusan Anak, Sistem Kesehatan Kolaps
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 500 anak meninggal akibat campak di Bangladesh sejak Maret, dengan lebih dari 60.000 kasus suspek dilaporkan.
- Keterlambatan pengadaan vaksin oleh pemerintah transisi dan kesenjangan imunisasi pasca-COVID menjadi faktor utama penyebaran.
- UNICEF memperingatkan risiko lonjakan kasus saat mudik Idul Fitri, meskipun pemerintah menolak deklarasi darurat.

Bangladesh tengah menghadapi wabah campak yang mematikan. Kementerian Kesehatan setempat mencatat lebih dari 500 anak dengan kasus suspek dan terkonfirmasi meninggal dunia sejak Maret 2026. Dalam kurun waktu dua bulan, jumlah kasus suspek telah melampaui 60.000, meskipun angka pasti masih menunggu hasil laboratorium.
Kisah Akira, balita berusia empat tahun asal Dhaka, menjadi gambaran kelam kegagalan sistem kesehatan. Ayahnya, Al Amin, menceritakan bahwa anaknya telah empat kali dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksin campak, namun selalu ditolak—dua kali karena pilek, dua kali lagi karena stok vaksin kosong. Akira akhirnya dirawat pada 8 Maret dengan demam tinggi, ruam, dan luka di mulut. Ia bolak-balik masuk rumah sakit lima kali sebelum akhirnya meninggal setelah 27 hari menjalani perawatan intensif.
UNICEF menyebut wabah ini sebagai "badai sempurna" akibat kombinasi beberapa faktor: anak-anak tidak mendapatkan imunisasi rutin, kepadatan penduduk tinggi di Dhaka dan Cox's Bazar, serta mobilitas besar saat liburan. Namun, sorotan utama tertuju pada keterlambatan pengadaan vaksin oleh pemerintah transisi yang berkuasa setelah kepergian Sheikh Hasina pada 2024. Rana Flowers, Kepala Perwakilan UNICEF di Bangladesh, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengadakan sepuluh pertemuan dengan pemerintah untuk memperingatkan risiko kekosongan stok vaksin. "Saya duduk bersama penasihat interim dan staf setidaknya sepuluh kali, mengatakan kami khawatir akan terjadi kekosongan," ujarnya.
Pemerintah transisi membantah adanya perubahan dalam proses pengadaan vaksin. Md Sayedur Rahman, mantan Asisten Khusus Menteri Kesehatan, menegaskan bahwa tidak ada perubahan yang dilakukan selama masa pemerintahan transisi dan hubungan dengan UNICEF tetap berjalan baik. Namun, para ahli menyoroti bahwa celah imunisasi yang terbuka selama pandemi COVID-19 belum pernah ditutup. Dr. Mushtaq Husain, mantan Pejabat Ilmiah Utama di Institut Epidemiologi, Pengendalian Penyakit, dan Penelitian, menjelaskan bahwa petugas kesehatan sebelumnya melakukan kunjungan rumah untuk meyakinkan orang tua, tetapi praktik itu dihentikan saat pandemi karena khawatir penularan.
"Orang miskin biasanya tidak datang ke rumah sakit pemerintah sampai saat-saat terakhir, karena mereka harus membeli obat dan tes," kata Dr. Mushtaq Husain.
Pemerintah Bangladesh meluncurkan kampanye vaksinasi darurat pada awal April dengan bantuan lembaga internasional. UNICEF melaporkan bahwa jumlah kasus baru mulai melambat di beberapa daerah yang menjadi prioritas pertama. Namun, kekebalan dari vaksin tidak langsung terbentuk—membutuhkan waktu tiga hingga empat minggu untuk menghasilkan antibodi. Menteri Kesehatan Sardar Sakhawat Hossain optimistis angka infeksi akan segera turun, namun menolak deklarasi darurat dengan alasan rumah sakit daerah sudah siap. Sementara itu, kekhawatiran muncul terkait pergerakan jutaan orang saat liburan Idul Fitri yang dapat memperluas penularan.
Bagi Al Amin, tidak ada jawaban yang bisa mengembalikan putrinya. "Hari ini saya menangis lebih dari satu jam di samping makamnya," katanya. Ia masih menyimpan segudang pertanyaan tentang mengapa vaksin tidak tersedia, mengapa gejala terlewat, dan mengapa rumah sakit gagal mengisolasi pasien campak. Wabah ini menjadi pengingat pahit bahwa sistem kesehatan yang lemah dapat merenggut nyawa anak-anak yang seharusnya bisa diselamatkan.



