Iran Tuding Serangan AS sebagai 'Iktikad Buruk', Pulihkan Akses Internet Setelah Mati Total Berbulan-Bulan
Baca dalam 60 detik
- Teheran mengecam serangan militer AS di selatan Iran sebagai pelanggaran gencatan senjata dan bentuk ketidakpercayaan di tengah negosiasi yang masih berlangsung.
- Pemerintah Iran mulai memulihkan layanan internet tetap setelah pemadaman nasional yang berlangsung sejak Januari, yang diperkirakan merugikan ekonomi hingga 40 juta dolar AS per hari.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi alat tawar utama dalam perundingan, sementara FAO memperingatkan potensi krisis pangan global jika situasi tidak segera diatasi.

Pemerintah Iran secara resmi mengecam serangan udara terbaru Amerika Serikat yang dilancarkan pada Senin (26/5) di wilayah selatan negara itu. Dalam pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut tindakan Washington sebagai bentuk "iktikad buruk dan ketidakandalan" yang dapat menggoyahkan proses negosiasi yang tengah berlangsung. Serangan tersebut merupakan yang pertama sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 7 April lalu.
Militer AS mengklaim serangan itu bersifat defensif, menargetkan lokasi peluncuran rudal dan kapal penyapu ranjau milik Iran. Juru bicara Pentagon menegaskan bahwa pihaknya bertindak dengan "pengendalian diri" mengingat situasi gencatan senjata yang rapuh. Namun, Teheran menolak argumen tersebut dan menegaskan bahwa setiap agresi akan mendapat balasan setimpal. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan mengklaim telah menembak jatuh setidaknya satu drone dan menggagalkan upaya pesawat nirawak serta jet tempur yang melanggar wilayah udaranya.
Sementara itu, Iran mulai memulihkan akses internet setelah mengalami pemadaman nasional yang berlangsung selama berbulan-bulan. Pemerintah menyebut pemadaman itu sebagai kebutuhan perang, namun aktivis dan pelaku usaha menilai kebijakan tersebut telah menghancurkan sektor bisnis digital yang sebelumnya tumbuh pesat. Laporan dari dalam negeri menyebutkan bahwa layanan broadband tetap sudah kembali berfungsi, meskipun akses seluler masih terbatas. Sebelum konflik, warga Iran biasa menggunakan VPN untuk mengakses platform seperti YouTube dan Instagram yang telah lama diblokir.
Di sisi lain, ketegangan di Selat Hormuz terus menjadi pusat perhatian global. Iran secara efektif menutup jalur perairan strategis tersebut sejak perang meletus, hanya mengizinkan 25 kapal melintas dalam 24 jam terakhirโjauh di bawah angka normal yang mencapai lebih dari 100 kapal per hari. Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Qu Dongyu, memperingatkan bahwa kelangkaan pupuk akibat penutupan selat dapat memicu krisis pangan global pada 2026โ2027 jika tidak segera diatasi. Iran menjadikan pembukaan kembali selat sebagai syarat utama dalam negosiasi, bersama dengan tuntutan pencabutan blokade militer AS di pelabuhan-pelabuhan Iran.
"Keputusan yang kita ambil sekarang akan menentukan apakah ini tetap menjadi guncangan yang bisa dikelola atau berubah menjadi krisis keamanan pangan global yang lebih dalam pada 2026 dan 2027 serta seterusnya," ujar Qu Dongyu dalam acara di Roma.
Dalam perkembangan terpisah, Iran mengeksekusi mati seorang pria bernama Gholamreza Khani Shakarab yang divonis bersalah menjadi mata-mata untuk Mossad. Eksekusi ini menjadi yang terbaru dari puluhan hukuman mati terkait tuduhan spionase sejak perang dimulai. Kelompok hak asasi manusia mengkritik proses peradilan Iran yang dinilai tidak transparan, dengan persidangan tertutup dan pengakuan yang dipaksakan.
Ke depan, kelanjutan negosiasi antara Iran dan AS masih belum jelas. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperkirakan pembahasan perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz akan memakan waktu "beberapa hari." Namun, dengan saling serang dan ketidakpercayaan yang mendalam, jalan menuju kesepakatan damai masih terjal dan penuh ketidakpastian.



