Jepang Tawarkan Kapal Fregat Canggih ke Selandia Baru: Sinyal Baru Poros Indo-Pasifik
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pertahanan Jepang menggelar pertemuan trilateral pertama dengan Australia dan Selandia Baru di sela Shangri-La Dialogue, Singapura.
- Tokyo mendorong ekspor fregat Mogami-class ke Wellington sebagai bagian dari strategi interoperabilitas dan pencegahan di Indo-Pasifik.
- Revisi aturan ekspor senjata Jepang pada April lalu membuka peluang pengiriman kapal perang ke negara mitra keamanan.

Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi memulai babak baru diplomasi keamanan regional dengan menggelar pertemuan trilateral pertama bersama mitranya dari Selandia Baru dan Australia di sela Forum Keamanan Shangri-La Dialogue, Singapura, Sabtu (30/5). Agenda utama pembicaraan adalah potensi pengiriman fregat siluman Mogami-class buatan Jepang ke Selandia Baru, sebuah langkah yang dinilai dapat memperkuat kerja sama pertahanan di kawasan Indo-Pasifik.
Koizumi dijadwalkan melakukan presentasi langsung mengenai kemampuan kapal perang canggih milik Maritime Self-Defense Force tersebut kepada Menteri Pertahanan Selandia Baru Chris Penk dan Menteri Pertahanan Australia Richard Marles. Pertemuan ini berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran negara-negara sekutu atas ekspansi militer dan sikap asertif Tiongkok di Laut China Selatan dan kawasan sekitarnya.
Australia, yang oleh Jepang disebut sebagai mitra keamanan terdekat di luar aliansi dengan Amerika Serikat, telah memilih desain berbasis Mogami-class untuk program fregat generasi berikutnya. Kapal-kapal tersebut akan dikembangkan bersama Jepang. Sementara itu, Selandia Baru tengah mencari pengganti armada fregatnya yang sudah menua. Menurut para pejabat Jepang, penggunaan jenis kapal yang sama oleh ketiga negara akan meningkatkan interoperabilitas dan mempererat kerja sama keamanan.
Sebelumnya, pada awal Mei, Menteri Penk mengakui bahwa Selandia Baru tengah mempertimbangkan Mogami-class dan fregat Type 31 buatan Inggris sebagai kandidat pengganti armadanya. Konsultasi dengan pejabat militer Inggris dan Australia telah dimulai sebagai bagian dari proses evaluasi. Keputusan akhir diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa bulan mendatang.
Langkah Jepang ini tidak terlepas dari revisi kebijakan ekspor senjata yang dilakukan pada April lalu. Aturan baru memungkinkan Tokyo mengekspor persenjataan, termasuk kapal perang, ke negara-negara yang telah memiliki perjanjian perlindungan informasi rahasia dan masalah keamanan lainnya. Potensi kesepakatan informasi keamanan antara Jepang dan Selandia Baru diperkirakan menjadi salah satu topik dalam pertemuan bilateral Koizumi-Penk setelah sesi trilateral.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara yang juga bergulat dengan modernisasi alutsista dan menghadapi dinamika keamanan di Indo-Pasifik, kerja sama pertahanan antar negara sekutu dapat mempengaruhi keseimbangan kekuatan regional. Meskipun Indonesia tidak terlibat langsung, peningkatan interoperabilitas antara Jepang, Australia, dan Selandia Baru dapat menciptakan arsitektur keamanan baru yang lebih solid di kawasan. Pertanyaan yang muncul kemudian: akankah Indonesia turut mempertimbangkan kerja sama serupa dengan Jepang, mengingat hubungan bilateral yang semakin erat dalam beberapa tahun terakhir?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7532552/original/066287400_1780306637-IMG-20260601-WA0135.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3255366/original/043783600_1601554043-20201001-Geliat-Perajin-Patung-Garuda-Pancasila-Bertahan-di-Tengah-Pandemi-8.jpg)