PSI: PDIP Tak Pernah Menang Tanpa Jokowi, Megawati dan Ganjar Jadi Bukti
Baca dalam 60 detik
- Bestari Barus dari PSI menilai PDIP belum pernah memenangkan pemilu sejak ditinggal Jokowi, merujuk pada kekalahan Megawati dan Ganjar.
- Menurut Bestari, pemecatan Jokowi oleh PDIP adalah langkah kontraproduktif karena ia adalah satu-satunya kader yang sukses memenangkan kontestasi presiden.
- PDIP melalui Guntur Romli membantah ketergantungan pada Jokowi, mengklaim kontribusinya hanya 1% terhadap elektabilitas partai.

Ketua DPP PSI Bidang Politik, Bestari Barus, melontarkan kritik tajam terhadap PDIP dengan menyatakan bahwa partai berlambang banteng itu tidak pernah memenangkan pemilu setelah ditinggalkan oleh Joko Widodo (Jokowi). Pernyataan ini disampaikan Bestari dalam wawancara dengan CNN Indonesia, Jumat (29/5), sebagai respons atas pemecatan Jokowi dari keanggotaan PDIP.
Bestari, yang juga mantan politikus Partai NasDem, menegaskan bahwa kegagalan elektoral PDIP tidak hanya terjadi pada Pilpres 2024 saat mengusung Ganjar Pranowo, tetapi juga dialami oleh Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. "Bayangkan, orang yang berhasil memenangkan kontestasi presiden justru dipecat. Padahal Bu Megawati tidak pernah menang pemilu, dan Ganjar Pranowo juga kalah setelah ditinggal Pak Jokowi," ujarnya.
Menurut Bestari, kekalahan PDIP dari Prabowo Subianto di Pilpres 2024 bukanlah pukulan terbesar. Yang lebih menyakitkan bagi PDIP adalah kepergian Jokowi yang dianggap sebagai sosok kunci di balik kemenangan partai pada 2014 dan 2019. "Kekalahan dari Pak Prabowo itu tidak seberapa sakit. Yang sakit adalah kehilangan Pak Jokowi. Itu membekas sampai hari ini," tambahnya.
Di sisi lain, Juru Bicara PDIP Guntur Romli membantah bahwa partainya bergantung pada Jokowi. Ia menegaskan bahwa PDIP tidak akan ikut campur dengan rencana Jokowi untuk blusukan ke berbagai daerah, karena Jokowi sudah bukan lagi kader partai. "Jokowi dipecat setelah Pilpres dan Pemilu 2024. Dia bukan bagian dari PDIP lagi," kata Guntur.
Guntur juga meremehkan kontribusi Jokowi terhadap elektabilitas PDIP. Menurut data internal partai, kehadiran Jokowi sebagai presiden hanya meningkatkan elektabilitas PDIP sebesar satu persen pada Pemilu 2014 dan 2019. "Data menunjukkan kenaikan hanya 1 persen. Jadi tidak ada dampak signifikan terhadap elektoral partai," ujarnya.
Pernyataan Bestari dan Guntur mencerminkan perpecahan yang semakin dalam antara PDIP dan Jokowi pasca-Pilpres 2024. Jokowi, yang kini tidak lagi memiliki afiliasi partai, tetap menjadi figur yang diperebutkan pengaruhnya. Sementara itu, PDIP berusaha menunjukkan bahwa mereka bisa mandiri tanpa Jokowi, meskipun catatan elektoral menunjukkan sebaliknya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah PDIP mampu membangun kembali mesin politik tanpa Jokowi, atau justru akan terus mengalami penurunan elektoral seperti yang diprediksi oleh Bestari. Dengan Pemilu 2029 yang masih jauh, dinamika internal PDIP dan hubungannya dengan Jokowi akan menjadi salah satu faktor penentu peta politik Indonesia.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3255366/original/043783600_1601554043-20201001-Geliat-Perajin-Patung-Garuda-Pancasila-Bertahan-di-Tengah-Pandemi-8.jpg)

