Laporan Pelecehan Seksual Pria di Malaysia Melonjak, Lebih dari 1.000 Aduan Masuk Sejak 2024
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Keluarga, dan Masyarakat Malaysia mencatat lebih dari 1.000 pengaduan pelecehan seksual dari korban pria sejak 2024, menandai peningkatan signifikan.
- Meski angka pelaporan naik, aktivis memperingatkan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar karena rasa malu dan stigma masih menghalangi banyak korban pria untuk berbicara.
- Peningkatan ini terjadi di tengah tren kenaikan kasus pelecehan seksual nasional, dari 477 kasus pada 2022 menjadi 1.038 pada 2025, mendorong penguatan mekanisme pengaduan seperti Tribunal Anti-Pelecehan Seksual (TAGS).

Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Keluarga, dan Masyarakat Malaysia melaporkan lonjakan signifikan jumlah pengaduan pelecehan seksual yang melibatkan korban pria. Lebih dari 1.000 aduan telah diterima melalui mekanisme pengaduan kementerian sejak awal 2024, menurut Menteri Nancy Shukri. Ia menyebut angka ini sebagai peningkatan tajam dibandingkan periode sebelumnya.
Nancy menjelaskan bahwa bentuk pelecehan yang dilaporkan mencakup kontak fisik yang tidak diinginkan dan sentuhan tidak pantas tanpa persetujuan. Lonjakan ini terjadi di tengah tren kenaikan kasus pelecehan seksual secara nasional. Data kepolisian menunjukkan jumlah kasus yang dilaporkan meningkat dari 477 pada 2022 menjadi 1.038 pada 2025.
Namun, para aktivis mengingatkan bahwa angka tersebut hanya mencerminkan mereka yang berani melapor, bukan skala sebenarnya dari pelecehan yang terjadi. Di Malaysia, pelecehan seksual masih sangat jarang dilaporkan di semua gender. Rasa malu, stigma, dan ketakutan akan respons sosial masih menjadi hambatan besar, terutama bagi korban pria yang sering kali enggan mengakui pengalaman mereka.
Untuk mengatasi masalah ini, Malaysia telah mengesahkan Undang-Undang Anti-Pelecehan Seksual pada 2022. Undang-undang ini membentuk Tribunal Anti-Pelecehan Seksual (TAGS), sebuah badan khusus yang memberikan jalur penyelesaian yang lebih cepat dan murah bagi korban tanpa harus melalui proses pengadilan penuh. TAGS diharapkan dapat mendorong lebih banyak korban, termasuk pria, untuk melaporkan kasus mereka.
Meskipun demikian, para pegiat menekankan bahwa perubahan hukum saja tidak cukup. Diperlukan kampanye kesadaran publik yang lebih luas untuk mengubah persepsi masyarakat tentang pelecehan seksual terhadap pria, serta dukungan psikologis dan hukum yang memadai bagi para korban. Ke depan, efektivitas TAGS dalam menangani pengaduan dan memberikan keadilan akan menjadi indikator penting keberhasilan upaya pemberantasan pelecehan seksual di Malaysia.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7259728/original/067836900_1780045811-3.jpg)
