PSI Balas Kritik PDIP: Komentar Miring Muncul Setelah Kenikmatan Dicabut Jokowi
Baca dalam 60 detik
- Ketua DPP PSI Bestari Barus menilai kritik PDIP terhadap Jokowi muncul setelah partai itu kehilangan dukungan presiden.
- Bestari mengaitkan kegelisahan PDIP dengan potensi perpindahan massa pendukung Jokowi ke PSI.
- Guntur Romli sebelumnya meragukan pengaruh Jokowi, mengingat kegagalannya membawa PSI ke parlemen saat menjabat.

Ketua DPP PSI Bestari Barus menanggapi pernyataan politisi PDIP Guntur Romli yang meragukan pengaruh Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dengan sindiran tajam. Bestari menilai kritik tersebut lahir dari kekecewaan PDIP setelah kehilangan akses terhadap kekuasaan yang sebelumnya dinikmati.
Dalam pernyataannya, Jumat (29/5), Bestari menyebut bahwa sikap miring PDIP terhadap Jokowi sudah terlihat sejak mantan presiden itu mencabut berbagai fasilitas partai. "Enggak tahu ya semenjak kenikmatan-kenikmatan buat partainya itu dicabut oleh Pak Jokowi, kan selalu miring saja pendapatnya," ujarnya.
Bestari juga menyoroti kekhawatiran PDIP terhadap rencana Jokowi berkeliling Indonesia. Menurutnya, kehadiran Jokowi di daerah justru akan disambut antusias masyarakat yang merindukan kebijakannya. Ia menduga PDIP cemas karena suara pemilih diam Jokowi berpotensi beralih ke PSI.
Bestari berharap momen ini dimanfaatkan Jokowi untuk menegaskan posisinya di PSI. "Mudah-mudahan menjadi kesempatan juga pada saat mengunjungi seluruh Indonesia nanti, Pak Jokowi menyatakan bahwa sekarang sudah bersama PSI," katanya. Ia menambahkan bahwa langkah tersebut akan memperjelas arah dukungan politik Jokowi.
Di sisi lain, Bestari mempertanyakan peran Guntur Romli di PDIP. "Saya juga heran sebetulnya dia di PDIP itu sebagai apa sih? Pengurus bukan, apa bukan, atau lagi berlomba-lomba untuk menjadi pengurus?" ujarnya. Ia menilai pernyataan Guntur tidak berbobot dan tidak konstruktif bagi partainya sendiri.
"Secara logika sederhana saja, waktu Jokowi jadi Presiden tidak mampu meloloskan PSI ke Parlemen, apalagi sekarang tidak jadi apa-apa," kata Guntur Romli sebelumnya.
Pernyataan Guntur itu merujuk pada kegagalan PSI meraih kursi DPR pada Pemilu 2024 meski Jokowi masih menjabat presiden. Namun, Bestari menilai argumen tersebut mengabaikan dinamika politik pasca-pemilu, termasuk perpindahan basis massa dan perubahan loyalitas pemilih.
Pertarungan retorika antara PSI dan PDIP ini mencerminkan persaingan yang semakin terbuka pasca-2024. Dengan Jokowi kini berada di kubu PSI, partai besutan anaknya itu berupaya memanfaatkan popularitas mantan presiden untuk memperkuat basis elektoral. Sementara PDIP, yang kehilangan figur sentral, harus beradaptasi dengan realitas politik baru tanpa Jokowi.
Ke depan, apakah PSI mampu mengonversi popularitas Jokowi menjadi suara signifikan pada pemilu mendatang? Atau justru PDIP yang akan bangkit kembali dengan strategi tanpa Jokowi? Jawabannya akan terlihat pada kontestasi politik ke depan.



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7517505/original/005753100_1780289766-Hasto.jpeg)