Jadwal Padat Jadi Biang Kerok: Foden dan Palmer Terpinggirkan dari Skuad Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Phil Foden dan Cole Palmer absen dari skuad Inggris Piala Dunia 2026 karena performa menurun akibat jadwal pertandingan yang terlalu padat.
- Serikat pemain sepak bola (Fifpro) memperingatkan bahwa beban kerja berlebih meningkatkan risiko cedera dan penurunan performa, seperti yang dialami Declan Rice dan Virgil van Dijk.
- Kekhawatiran muncul bahwa Piala Dunia 48 tim hanya akan menjadi ajang 'survival of the fittest' bagi pemain yang kelelahan.

Phil Foden, gelandang Manchester City, menjadi salah satu korban dari jadwal pertandingan sepak bola yang semakin padat. Hal ini diungkapkan oleh Maheta Molango, CEO Asosiasi Pesepak Bola Profesional (PFA), setelah Foden tidak masuk dalam skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Performa Foden yang menurun drastis musim ini menjadi alasan utama keputusan pelatih Thomas Tuchel.
Foden, yang baru berusia 25 tahun, sempat meraih penghargaan individu bergengsi pada akhir musim 2023-2024, termasuk Pemain Terbaik versi PFA. Namun, musim ini ia gagal menunjukkan konsistensi. Menurut Molango, penurunan ini bukan tanpa sebab. "Jumlah pertandingan yang bisa ia mainkan berkurang, dan saat ia tampil, performanya tidak seperti dua tahun lalu," ujar Molango. Ia menambahkan bahwa Foden adalah "korban dari kalender gila yang hanya menguntungkan kepentingan komersial, merugikan kualitas pertandingan dan perlindungan pemain."
Nasib serupa dialami Cole Palmer, gelandang Chelsea berusia 24 tahun, yang juga tidak dipanggil ke timnas Inggris. Molango menyesalkan bahwa penggemar Chelsea dan Inggris hanya bisa melihat sekilas kemampuan Palmer musim ini. Kedua pemain ini menjadi topik pembahasan dalam pertemuan Fifpro, organisasi global yang mewakili pesepak bola profesional.
Fifpro menegaskan bahwa pemain tidak mampu menghadapi musim kompetisi berintensitas tinggi secara berturut-turut tanpa mengalami cedera atau penurunan performa. Molango khawatir Piala Dunia mendatang hanya akan menjadi ajang "survival of the fittest" atau siapa yang paling kuat bertahan. "Ada kemungkinan besar itu terjadi karena pemain-pemain paling berbakat di klub-klub besar akan mencapai titik di mana beban kerja sudah terlalu berat. Anda tidak bisa memasuki turnamen setelah bermain 60 pertandingan atau mendekati angka itu," tegasnya.
Fenomena ini menyoroti ketidakseimbangan antara kepentingan komersial dan kesejahteraan pemain. Dengan jadwal yang semakin padat, termasuk kompetisi domestik, Eropa, dan internasional, para pemain top seperti Foden dan Palmer menjadi korban. Ke depan, perlu ada regulasi yang lebih ketat untuk melindungi aset terpenting sepak bola: para pemainnya.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7268270/original/074430500_1780053866-ChatGPT_Image_May_29__2026__06_22_51_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/3553628/original/080070800_1630078606-0_20210827IY_Bali_United_Vs_Persik_Kediri_20.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6522980/original/001180400_1779380160-mariano_p.jpg)