Data KMI Ungkap Arsenal dan Chelsea Nikmati Keberuntungan VAR Musim Ini
Baca dalam 60 detik
- Panel KMI Premier League mencatat 25 kesalahan VAR musim ini, meningkat dari 18 musim lalu, dengan Arsenal dan Chelsea sebagai klub paling diuntungkan.
- Arsenal seharusnya kebobolan tiga penalti dan tiga kartu merah, namun lolos tanpa satu pun sepanjang musim, sementara Chelsea diuntungkan delapan kesalahan wasit.
- Leeds United menjadi satu-satunya klub yang tidak mendapat satu pun kesalahan menguntungkan, dengan skor bersih -4, menjadikannya tim paling dirugikan.

Laporan terbaru dari Key Match Incidents (KMI) Panel Premier League mengungkap bahwa Arsenal dan Chelsea menjadi dua klub yang paling diuntungkan oleh kesalahan VAR dan wasit sepanjang musim 2025-26. Data yang diperoleh BBC Sport menunjukkan bahwa Arsenal, yang musim lalu menjadi juara tanpa sekalipun menerima kartu merah atau kebobolan penalti, seharusnya mendapatkan tiga kartu merah dan tiga penalti untuk lawan. Sementara itu, Chelsea diuntungkan oleh delapan kesalahan wasit, termasuk dua intervensi VAR yang keliru.
Secara total, terdapat 25 kesalahan VAR musim ini, naik dari 18 kesalahan pada musim 2024-25. Meski demikian, angka ini masih lebih baik dibandingkan 31 kesalahan pada 2023-24 dan 38 kesalahan pada 2022-23. Panel KMI, yang terdiri dari tiga mantan pemain dan pelatih serta perwakilan Premier League dan PGMO, menilai setiap keputusan wasit dan VAR setiap pekan. Menurut panel, Arsenal seharusnya kebobolan penalti melawan Everton dan Brighton, serta Kai Havertz seharusnya diusir keluar lapangan akibat tekel kerasnya dari belakang pada Lesley Ugochukwu.
Di sisi lain, Chelsea menjadi satu-satunya klub yang tidak mengalami satu pun kesalahan VAR yang merugikan. Klub asal London Barat itu justru diuntungkan oleh keputusan VAR yang keliru saat gol Josh King untuk Fulham dianulir dan penalti yang diberikan kepada Crystal Palace. Bournemouth juga termasuk yang diuntungkan, dengan empat kesalahan menguntungkan, termasuk lolosnya Marcos Senesi dari kartu merah dua kali. Namun, Bournemouth juga menjadi salah satu klub yang paling dirugikan dengan enam kesalahan wasit secara keseluruhan.
Jika melihat keseimbangan keputusan, Arsenal dan Chelsea sama-sama mencatat skor bersih +5, disusul Wolves dengan +4. Sebaliknya, Leeds United menjadi tim yang paling dirugikan dengan skor bersih -4, menjadi satu-satunya klub yang tidak mendapat satu pun kesalahan menguntungkan. Aston Villa, Brighton, dan Palace juga mencatat skor negatif. Menariknya, Everton yang sering dianggap kurang beruntung justru memiliki skor bersih +3 bersama Sunderland dan Wolves, berkat beberapa keputusan yang menguntungkan mereka.
Survei terbaru menunjukkan ketidakpuasan penggemar terhadap VAR. Jajak pendapat Football Supporters' Association (FSA) pada Maret menemukan 75% penggemar klub Premier League menentang VAR. Namun, survei YouGov yang dirilis pekan lalu menunjukkan hanya 18% yang ingin VAR dihapus total, sementara 68% menginginkan perbaikan. Perbedaan ini sebagian disebabkan oleh perbedaan sampel dan cara pertanyaan diajukan. PGMO sendiri mengklaim bahwa meskipun jumlah kesalahan meningkat, tren jangka panjang masih positif, dengan rata-rata waktu review turun menjadi 47 detik per pertandingan dari 64 detik musim lalu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, data ini menegaskan bahwa teknologi VAR masih jauh dari sempurna dan sering kali menimbulkan kontroversi. Di Liga Indonesia, penerapan VAR yang baru dimulai juga menghadapi tantangan serupa, seperti inkonsistensi keputusan dan durasi review yang lama. Ke depannya, Premier League berencana untuk memperluas cakupan VAR termasuk untuk kartu kuning kedua, yang diharapkan dapat mengurangi kesalahan. Namun, pertanyaan besarnya adalah: akankah perbaikan teknis cukup untuk mengembalikan kepercayaan penggemar, ataukah VAR justru semakin menjauhkan sepak bola dari esensinya?



