Kunjungan Bersejarah Marcos ke Jepang: Mencari Dukungan Hadapi Tantangan Maritim
Baca dalam 60 detik
- Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang, pertama dalam lebih dari satu dekade, untuk memperkuat kerja sama pertahanan.
- Pembahasan utama meliputi pemanfaatan kebijakan baru Jepang yang melonggarkan larangan ekspor senjata mematikan untuk membantu Filipina dan negara Asia Tenggara lainnya.
- Kunjungan ini menandai upaya Manila mencari mitra strategis dalam menghadapi meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan.

Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., memulai kunjungan kenegaraan selama empat hari ke Jepang, menandai lawatan pertama pemimpin Filipina ke Negeri Sakura dalam lebih dari satu dekade. Kunjungan ini dinilai sebagai langkah strategis Manila untuk memperkuat posisinya di tengah meningkatnya ketegangan maritim di Laut China Selatan.
Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, Marcos dijadwalkan membahas peningkatan kerja sama pertahanan dan hubungan bilateral lainnya. Analis menilai Jepang menjadi mitra penting bagi Filipina dalam menghadapi tantangan keamanan yang dipicu oleh meningkatnya asertivitas maritim China. Kedua negara, menurut Marcos, memiliki pengalaman serupa dalam menghadapi tindakan koersif dan berbagai taktik zona abu-abu di Laut China Selatan.
Pelonggaran larangan ekspor senjata mematikan oleh Jepang membuka peluang bagi Filipina untuk memperoleh peralatan militer yang lebih canggih. Hal ini menjadi krusial mengingat keterbatasan anggaran pertahanan Manila dan kebutuhan untuk memodernisasi armada laut serta sistem pengawasan di wilayah perairannya. Kerja sama ini tidak hanya bersifat bilateral, tetapi juga dapat memperkuat arsitektur keamanan regional di kawasan Indo-Pasifik.
Selain isu pertahanan, kunjungan Marcos juga diharapkan menghasilkan kesepakatan di bidang ekonomi dan investasi. Jepang merupakan salah satu investor terbesar di Filipina, dan peningkatan kerja sama di sektor infrastruktur serta teknologi diyakini akan menjadi agenda sampingan yang tak kalah penting. Namun, fokus utama tetap pada upaya bersama menghadapi tekanan China di Laut China Selatan.
Para pengamat menilai bahwa kunjungan ini menunjukkan pergeseran kebijakan luar negeri Filipina yang semakin mendekatkan diri ke sekutu tradisionalnya di tengah ketidakpastian dinamika regional. Dengan dukungan Jepang, Manila berharap dapat menyeimbangkan pengaruh China dan menjaga kedaulatan wilayahnya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7221281/original/074803200_1780008812-HJcLJQVaQAAbN3D.jpg)

