Tekanan Ganda IHSG dan Rupiah: Perang Timur Tengah hingga Defisit APBN Mengintai
Baca dalam 60 detik
- IHSG terperosok ke level 5.900 dan rupiah menyentuh Rp17.800 per dolar AS akibat kombinasi sentimen perang Timur Tengah serta kekhawatiran defisit APBN di atas 3%.
- Managing Director Pinnacle Investment menilai volatilitas pasar keuangan Indonesia masih tinggi, dipicu oleh ketidakpastian kebijakan The Fed dan aliran dana asing ke emerging market.
- Investor lokal dan asing dihadapkan pada dilema: risiko geopolitik global versus tekanan fiskal domestik yang bisa memperburuk pelemahan aset berdenominasi rupiah.

Pasar keuangan Indonesia kembali mendapat pukulan beruntun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpangkas hingga menyentuh level terendah 5.900, sementara nilai tukar rupiah terus merosot ke posisi Rp17.800 per dolar Amerika Serikat. Kombinasi tekanan eksternal dan internal membuat investor gamang, dan volatilitas diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
Managing Director sekaligus Chief Investment Officer Pinnacle Investment, Andri Yauhari Njauw, mengungkapkan bahwa pasar domestik tengah dihantam oleh dua sumber tekanan sekaligus. Dari eksternal, eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah global naik, yang pada gilirannya memperlemah nilai tukar rupiah dan menekan saham-saham berbasis komoditas. Sementara dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal pemerintah muncul setelah ancaman defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diperkirakan menembus batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurut Andri, tekanan ganda ini membuat pasar keuangan Indonesia sangat volatil. Investor asing cenderung wait-and-see sambil mencermati arah kebijakan moneter The Fed. Jika suku bunga acuan AS tetap tinggi, aliran dana asing ke emerging market, termasuk Indonesia, berpotensi terhambat. Di sisi lain, pengelola dana besar (jumbo fund) mulai mempertimbangkan ulang alokasi aset mereka di Asia Tenggara, dengan Indonesia menjadi salah satu yang paling terpengaruh karena tingginya sensitivitas terhadap pergerakan dolar AS.
Bagi investor domestik, situasi ini menuntut kehati-hatian ekstra. Pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor dan tekanan inflasi, sementara IHSG yang tertekan mengurangi nilai portofolio. Namun, beberapa analis melihat bahwa pelemahan ini bisa menjadi peluang bagi investor jangka panjang, terutama jika pemerintah mampu menjaga defisit APBN tetap terkendali dan The Fed mulai melonggarkan kebijakan moneternya.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada langkah Bank Indonesia dalam menstabilkan rupiah serta kebijakan fiskal yang akan diumumkan pemerintah. Pertanyaannya, mampukah otoritas moneter dan fiskal berkoordinasi untuk meredam gejolak sebelum sentimen negatif semakin mengakar? Ataukah tekanan ganda ini akan membawa IHSG dan rupiah ke level yang lebih rendah lagi?



