Michael Carrick Resmi Jadi Pelatih Tetap Manchester United, Akankah Ia Penerus Sejati Sir Alex Ferguson?
Baca dalam 60 detik
- Manchester United mengangkat Michael Carrick sebagai pelatih tetap hingga 2028 setelah sukses membawa tim ke posisi 3 Premier League dan tiket Liga Champions.
- Carrick mencatat persentase kemenangan 66,7% di liga, melampaui rekor domestik Sir Alex Ferguson (65,2%), serta mengakhiri drama ruang ganti yang sempat merusak harmoni tim.
- Musim depan akan menjadi ujian sebenarnya apakah Carrick mampu mempertahankan konsistensi atau justru menjadi bagian dari kutukan mantan pemain yang gagal di kursi pelatih MU.

Manchester United resmi menunjuk Michael Carrick sebagai pelatih kepala tetap setelah kontrak interimnya diperpanjang hingga 2028. Keputusan ini diumumkan Jumat (22/5/2026) menyusul transformasi performa tim yang dramatis sejak ia mengambil alih kursi pelatih pada Januari 2026. Carrick berhasil membawa Setan Merah finis di peringkat ketiga klasemen Premier League 2025/2026 dan mengamankan tiket ke Liga Champions musim depan.
Kenaikan Carrick ke posisi permanen bukanlah tanpa alasan. Sebelum kedatangannya, Manchester United mengalami masa sulit di bawah asuhan Ruben Amorim. Pada musim 2024/2025, klub finis di urutan ke-15—catatan terburuk di era Premier League—dan gagal meraih gelar Europa League setelah kalah dari Tottenham Hotspur di final. Meski didatangkan sejumlah pemain anyar seperti Bryan Mbeumo, Benjamin Sesko, dan Matheus Cunha, performa tim justru memburuk hingga akhirnya Amorim dipecat pada 5 Januari 2026 setelah konflik dengan manajemen.
Carrick, yang sebelumnya menangani Middlesbrough, dipanggil kembali ke Old Trafford sebagai pelatih sementara. Dalam waktu singkat, ia berhasil mengubah wajah United. Gaya bermain yang lebih fleksibel dan fokus pada serangan balik cepat membuat tim menjadi lebih efektif. Data Whoscored mencatat rata-rata penguasaan bola hanya 50,6%, namun produktivitas gol meningkat drastis: 27 gol dalam 14 pertandingan atau rata-rata 1,9 gol per laga, naik signifikan dibandingkan 20 laga awal bersama Amorim yang hanya 1,75 gol per pertandingan.
Keberhasilan Carrick tidak hanya terletak pada taktik, tetapi juga pendekatan personalnya. Para pemain seperti Matheus Cunha, Casemiro, dan Kobbie Mainoo secara terbuka mendukung pengangkatannya sebagai pelatih tetap. Cunha menyebut Carrick memiliki "magis seperti zaman Ferguson," sementara Mainoo menekankan kepercayaan yang diberikan Carrick kepada seluruh skuad. Tidak ada lagi drama ruang ganti yang sempat melibatkan pemain seperti Marcus Rashford, Jadon Sancho, atau Antony di era Amorim.
Namun, sejarah mencatat bahwa mantan pemain legendaris yang menjadi pelatih MU kerap gagal mempertahankan performa awal. Ryan Giggs hanya bertahan 4 laga sebagai caretaker pada 2014, Ruud van Nistelrooy digantikan setelah 4 pertandingan tanpa kekalahan, dan Ole Gunnar Solskjaer—meski sempat membawa euforia—akhirnya dipecat setelah performa menurun drastis. Carrick pun menyadari tantangan ini; ia pernah mundur dari posisi interim pada 2021 setelah kematian Solskjaer karena merasa tidak nyaman dengan situasi.
Kini, dengan kontrak hingga 2028, Carrick memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar "titisan" Sir Alex, melainkan pelatih yang mampu membangun era baru. Dukungan penuh dari pemain, penggemar, dan manajemen menjadi modal berharga. Namun, konsistensi dan kemampuan menghadapi tekanan di musim depan akan menjadi ujian sesungguhnya. Apakah Carrick akan menjadi penerus sejati yang selama ini dicari, atau justru melanjutkan kutukan mantan pemain di kursi pelatih MU? Hanya waktu yang bisa menjawab.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5331204/original/078939100_1756389482-IMG-20250828-WA0030.jpg)
