Kemenhaj Siagakan Tim Tanggap Darurat di Mina: Antisipasi Kepadatan Jelang Puncak Haji
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Haji dan Umrah mengerahkan Mobile Crisis Rescue (MCR) di kawasan Jamarat, Mina, untuk memberikan pertolongan pertama dan evakuasi darurat selama lontar jumrah.
- Sebanyak 1.356 petugas Satgas Mina disiagakan di titik-titik strategis guna memantau pergerakan jamaah dan merespons cepat situasi darurat.
- Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memastikan penyelenggaraan haji yang aman, tertib, dan ramah bagi lansia, disabilitas, serta perempuan.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) telah menempatkan tim Mobile Crisis Rescue (MCR) di kawasan Jamarat, Mina, Arab Saudi, sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kepadatan dan keadaan darurat yang mungkin terjadi saat jamaah melaksanakan lontar jumrah pada hari Tasyrik. Tim khusus ini, yang merupakan bagian dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji, bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, serta membantu mengurai kepadatan di area yang menjadi salah satu titik kritis selama puncak ibadah haji.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menjelaskan bahwa posko MCR ditempatkan di titik-titik strategis di area Jamarat dan sepanjang rute perlintasan jamaah. Penempatan ini dirancang agar petugas dapat memantau situasi secara langsung, merespons kondisi darurat dengan cepat, dan memberikan bantuan kepada jamaah yang membutuhkan penanganan segera. โPelindungan jamaah adalah prioritas. Karena itu, petugas tidak hanya berada di tenda-tenda jamaah, tetapi juga disiagakan di jalur pergerakan, pos pantau, dan titik-titik yang berpotensi terjadi kepadatan,โ ujar Maria dalam pernyataannya, Jumat (29/5/2026).
Keberadaan MCR menjadi bagian dari ikhtiar Kemenhaj untuk memastikan setiap situasi di lapangan dapat ditangani secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menghadirkan penyelenggaraan haji yang aman, tertib, ramah lansia, ramah disabilitas, dan ramah perempuan. Sejak 11 Dzulhijjah 1447 Hijriah, jamaah haji Indonesia telah mulai melaksanakan lontar tiga jamarah, yaitu Ula, Wustha, dan Aqabah.
Kemenhaj mengimbau jamaah untuk mengikuti jadwal lontar yang telah ditetapkan bagi masing-masing kloter dan tidak melaksanakan lontar di luar jadwal resmi. Maria kembali mengingatkan agar jamaah tidak memaksakan diri dan tidak berangkat sendiri menuju Jamarat. Seluruh pergerakan harus dilakukan secara berkelompok, didampingi petugas, serta mengikuti arahan ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu, sektor, dan pembimbing ibadah. Jamaah juga diminta memperhatikan waktu larangan melontar, terutama untuk menghindari paparan cuaca panas dan potensi kepadatan. Pada waktu larangan, jamaah diminta tetap berada di tenda, menjaga kondisi fisik, memperbanyak minum air putih, dan menunggu arahan petugas.
Untuk memperkuat layanan selama fase Mina, Kemenhaj menyiagakan 1.356 Petugas Satgas Mina yang ditempatkan di sejumlah titik pantau, jalur pergerakan jamaah, pos rute Jamarat, pos MCR bawah dan atas, serta pos koordinator tanazul. Dengan pengamanan berlapis ini, diharapkan setiap jamaah yang membutuhkan bantuan dapat segera ditangani. Pertanyaannya, apakah koordinasi lintas sektor dan kesadaran jamaah akan cukup untuk mencegah insiden di salah satu titik tersibuk ibadah haji tahun ini?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4960553/original/035815700_1728060133-WhatsApp_Image_2024-10-04_at_23.22.46_5ce6f6fe.jpg)

