Strategi Dua Dekade China Hadapi Perang Dagang Trump: Alihkan Ekspor ke Pasar Lain
Baca dalam 60 detik
- China mencatat surplus perdagangan rekor US$1,2 triliun pada 2025 meski tarif AS naik drastis.
- Ekonom Jiao Wang mengungkapkan bahwa penurunan ekspor ke AS diimbangi lonjakan perdagangan ke negara lain.
- Kebijakan diversifikasi yang dimulai dua dekade lalu menjadi kunci ketahanan ekonomi China menghadapi tekanan tarif.

China berhasil mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$1,2 triliun pada 2025, di tengah eskalasi perang dagang yang dipicu kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Capaian ini menjadi bukti bahwa strategi diversifikasi pasar yang dirancang Beijing selama dua dekade terakhir mampu meredam dampak langsung dari pembatasan akses ke Amerika Serikat.
Menjelang pertemuan puncak antara Xi Jinping dan Donald Trump di Beijing pada 14-15 Mei, ketegangan dagang kedua negara kian memanas. Keputusan Mahkamah Agung AS pada Februari yang membatalkan tarif "Liberation Day" memaksa pemerintahan Trump menerapkan tarif universal 10% untuk semua barang impor, namun hanya berlaku 150 hari hingga 24 Juli. Sebelum putusan itu, tarif efektif untuk produk China mencapai 47%, kini turun ke kisaran 19-24% menurut peneliti Yale.
Ekonom Jiao Wang dari University of Sussex dalam wawancara dengan The Conversation Weekly menjelaskan bahwa penurunan tajam perdagangan langsung AS-China pada 2025 justru diimbangi oleh peningkatan signifikan ke kawasan lain. "Kami sudah melihat realokasi besar pada perang dagang pertama, dan pada perang dagang kedua, polanya semakin jelas," ujar Wang. Ia menelusuri kebijakan China sejak awal 2000-an yang secara sistematis mengurangi ketergantungan pada pasar Barat.
Langkah-langkah seperti memperkuat hubungan dagang dengan negara-negara ASEAN, Afrika, dan Amerika Latin, serta mendorong inisiatif Belt and Road, menjadi fondasi ketahanan ekonomi China. Alih-alih terpukul, Beijing justru memanfaatkan tekanan tarif untuk mempercepat realokasi rantai pasok global. Wang menilai strategi ini sudah direncanakan jauh sebelum Trump menjabat, dengan tujuan jangka panjang mengurangi kerentanan terhadap tekanan geopolitik AS.
Ke depan, ketegangan dagang diperkirakan masih akan berlanjut, terutama setelah Juli saat tarif universal AS berakhir. Namun, dengan fondasi diversifikasi yang kokoh, China dinilai memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan saat perang dagang pertama pada 2018. Para pengamat menyarankan agar negara-negara lain mulai meniru strategi China untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu pasar utama.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7250363/original/053619500_1780036542-IMG_0253.jpeg)
