Vingegaard Kokoh di Puncak Giro Usai Dominasi Etape 16, Ciccone Lempar Botol karena Frustrasi
Baca dalam 60 detik
- Jonas Vingegaard memperlebar keunggulan klasemen usai memenangi etape 16 Giro d'Italia dengan akselerasi dahsyat di tanjakan curam.
- Giulio Ciccone meluapkan kekesalan dengan melempar botol minum ke arah kru timnya karena keunggulan rombongan breakaway terus tergerus.
- Vingegaard kini unggul 4 menit 3 detik atas Felix Gall, menjadikannya kandidat terkuat juara Giro edisi tahun ini.

Jonas Vingegaard, pembalap asal Denmark yang telah dua kali menjuarai Tour de France, kembali menunjukkan dominasinya di ajang Giro d'Italia. Pada etape 16 yang berlangsung di kawasan Alpen Italia dan Swiss, Vingegaard tampil perkasa dengan melesat sendirian sekitar 10 kilometer menjelang finis, meninggalkan para pesaingnya dalam laju yang sulit dikejar. Kecepatan rata-rata 23 km/jam di tanjakan dengan gradien 12% menjadi bukti nyata superioritasnya.
Cuaca panas turut mewarnai etape sejauh 113 kilometer ini. Sejumlah pembalap kehilangan waktu berharga, termasuk Giulio Ciccone dari Italia yang tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Ciccone, yang bersama rombongan breakaway berusaha membangun keunggulan, merasa frustrasi karena jarak dengan peleton utama tak kunjung aman. Dalam momen yang memicu perbincangan, ia melemparkan botol minum penuh ke arah asisten timnya yang berada di pinggir jalan, melintasi kerumunan penonton. Tindakan tersebut mencerminkan tekanan tinggi yang dialami para pembalap di etape pegunungan.
Rekan setim Ciccone di Lidl-Trek, Derek Gee-West dari Kanada, serta kontestan klasemen umum lainnya seperti Michael Storer dari Australia, mulai tertinggal saat Vingegaard meningkatkan tempo. Vingegaard finis dengan keunggulan 1 menit 9 detik atas Felix Gall (Austria/Decathlon-CMA CGM), sementara Jai Hindley (Australia/Red Bull-Bora-Hansgrohe) finis dua detik di belakang Gall. Giulio Pellizzari, rekan setim Hindley yang sebelumnya dianggap sebagai ancaman, justru mengalami kelelahan parah dan finis lebih dari 18 menit di belakang Vingegaard.
Vingegaard, yang kini menggenapkan usia 29 tahun, merayakan kemenangan etape dengan mencium stiker foto keluarganya di stang sepedaโsebuah ritual yang sudah menjadi kebiasaannya. Dalam pernyataan usai balapan, ia mengapresiasi kerja keras rekan setimnya di Visma-Lease a Bike. โMereka sangat termotivasi. Kami ingin menang dengan jersey merah muda, tapi ada risiko gagal, jadi kami memilih opsi pertama untuk melakukannya,โ ujar Vingegaard. โSaya pikir tanjakannya sangat berat. Rekan setim saya bekerja luar biasa sejak awal dan tidak memberi celah bagi rombongan breakaway.โ
Pekan terakhir Giro d'Italia memang dikenal sebagai fase penuh kejutan, di mana banyak pemimpin balapan sebelumnya kehilangan keunggulan. Namun, performa Vingegaard sejauh ini membuat banyak pengamat yakin ia akan mempertahankan jersey pink hingga finis di Roma pada hari Minggu. Dengan keunggulan lebih dari empat menit, Vingegaard tampaknya berada di jalur yang tepat untuk menambahkan gelar Giro ke dalam daftar prestasinya.
Etape 17 yang akan digelar Rabu menawarkan rute berbukit sepanjang 202 km menuju Andalo. Meski tidak seekstrem etape sebelumnya, tanjakan-tanjakan menjelang finis tetap berpotensi mengubah peta persaingan. Namun, dengan momentum dan kepercayaan diri yang dimiliki Vingegaard, kecil kemungkinan ia akan tergoyahkan.



